Pertarungan Selat Dampier Raja Ampat

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dibakar Matahari, Dihajar GT dan Kalah telak saat Bermain Bola

Trip Selat Dampier, Raja Ampat digelar tanggal 17-23 Maret 2011. Dengan pancinger  Handoko, Darwan (Surabaya) dan Tarigan, Imam, Herry, dan Albert (Timika). Kru MMT7 yang berangkat adalah Cepy, Arfane dan saya (Michael Risdianto ) Naskah dan foto michaelrisdianto.blogspot.com.

Target kami jelas adalah ikan-ikan besar seperti  Giant trevally (GT) atau ikan bobara. Itulah sebabnya tackle kami sebagian besar adalah tackle popping kelas PE6 ke atas. Ikan-ikan pelagis semacam tenggiri, wahoo, dan billfish tidak kami jadikan target utama disini. Areal yang menjadi fokus kami kali ini adalah Selat Dampier yang memisahkan Pulau Batanta dengan Pulau Waigeo yang  banyak terdapat  reef dangkal  di tengah-tengah selat. Mulai dari mulut selat di depan Pulau Augusta hingga di ujung selat yang lain yang mengarah ke Pulau Senapan jauh di timur, penuh bertabur reef dangkal. Ditambah dengan pergerakan arus selat yang selalu dinamis (meski tidak sepanjang hari), perairan Selat Dampier ini menjelma menjadi sebuah surga bagi siapapun yang menyukai teknik popping.

cepymike

cepy mike

Jadi setelah sampai di Kampung X, kami tidak berlama-lama, usai menurunkan logistik dan barang-barang lain, usai beramah-tamah sebentar dengan para warga kampung, kami langsung tancap gas menuju spot-spot yang dekat dengan kampung. Kami terbagi dalam dua buah longboat. Saya, Darwan dan Pak Handoko (Surabaya) berada di longboat yang dikemudikan oleh Kapten L, sedangkan Tim MM Trans 7 lainnya yakni host Cepy dan kameraman Arfane berada di longboat utama yang dikapteni oleh Kapten D. Mereka memancing bersama dengan kawan-kawan pancinger dari Freeport Indonesia yang sengaja cuti demi menuntaskan hasrat popping di sini. Ada Pak Tarigan, Pak Heri dan Pak Imam. Karena waktu kawan-kawan Freeport Indonesia ini sempit, hanya akan berada disini selama sekitar 3 hari saja, maka kamera utama ditempatkan di kapal mereka. Baru kemudian kalau mereka sudah pulang, pancinger di longboat Kapten L akan pindah ke longboat utama karena Kapten L akan mengantar para pancinger dari Freeport Indonesia tersebut untuk pulang ke Sorong.

dare-to-join

Meski sebenarnya cukup lelah, namun setengah hari ini semaksimal mungkin ingin dibuat berarti. Beberapa strike mungkin akan sangat menghibur kami. Namun bagaimanapun, berada di daerah baru kita tidak bisa selalu bisa langsung ngeh dengan keadaan ataupun karakter lokasi tempat kita ‘bermain’. Jadi pada hari pertama ini hasil kurang bagus. Di longboat utama ada beberapa stike namun hanya ikan-ikan GT kecil. Di kapal longboat saya juga ada, namun hanya dua ekor saja GT berukuran sedang. Hasil ini sebenarnya membuat kami nge-drop karena sejak berangkat dari rumah masing-masing, yang terbayang adalah monster dan monster GT. Banyak! Dan ini adalah lokasi yang jarang dipancingi orang, harusnya tidak seperti ini hasilnya, pikir kami. Jadi pasti ada yang salah.  Padahal popper telah kami lemparkan ke segala penjuru reef, longboat memutari reef beberapa kali, dari satu reef ke reef yang lain. Juga teknik popping terbaik yang bisa kami lakukan sudah kami terapkan. Pun juga kesabaran dan doa. Hehe. Pasti ada yang salah. Jadi karena belum menemukan jawaban, kami anggap hari ini kami menghibur diri bahwa kami memang hanya sedang pemanasan, tidak perlu hasil yang banyak dan besar.

gereja

Malam hari pertama di Kampung X terasa mengesankan. Usai makan malam kami duduk-duduk di dermaga (dari susunan kayu-kayu) sambil rebahan melihat bintang. Dan para penduduk kampung banyak yang bergerombol di sekitar basecamp kami untuk sekedar menyapa dan baku cerita. Informasi yang kami kumpulkan mengenai karakter Selat Dampier dari para penduduk semakin banyak dan kami sudah tak sabar untuk terlelap mengarungi mimpi menuju pagi datang menjemput kami yang sedang kasmaran strike GT!

hampir-gol

Berbekal  ‘jimat’ informasi dari  para penduduk kampung, dan kami pun telah melaju di atas longboat masing-masing hanya tiga kata saja,”ikan umpan, dan arus”. Jangan membuang tenaga saat tidak bertemu ikan umpan dan di lokasi tidak ada arus yang bagus, sebagus apapun itu reef yang akan ditemui hari ini. Lebih baik pindah lokasi mencari reef lain yang ada ikan umpannya dan atau arusnya. Maka akan kau dapatkan GT atau ikan-ikan besar lainnya. Bukan hal yang sulit. Kami hanya bisa berharap dengan mesin kecil yang terdapat di longboat kami, kami bisa menjelajah jauh ke sudut-sudut selat dan menemukan buruan kami. Sasaran pertama dalah Reef K. Reef ini hanya berjarak 30 menit saja dari Kampung X. Lurus ke utara persis di depan kampung. Reef yangs angat luas. Berada di tengah-tengah selat. Ada sebuah atol luas di tengah-tengah reef ini. Reef ini bukan destinasi para penyelam, arusnya gila, namun atol luas di reef ini konon ini adalah tempat favorit para penyelam yang ingin istirahat atau ingin snorkeling. Wah, ada kemungkinan bertemu para penyelam yang pasti akan gerah dengan kehadiran kami disini?

Reef K ini luar biasa luasnya, untuk sekali putaran saja, jika kita full melempar popper, untuk satu putaran belum tentu satu jam bisa tembus. Jadi kami sangat puas melempar karena tidak pernah kehabisan titik. Lha wong titiknya ada dimana-mana. Gila, saya bilang gila. Ikan umpan seperti cendol dawet. Penuh di segala penjuru reef (namun tidak di atas arus, biasanya agak jauh di luar kepala arus). Juga arusnya (kala-kala) sangat bagus. Di berbagai sudut kala-kala malah kadang terasa menyeramkan saking besarnya putaran dan benturan arus. Hasilnya cukup memuaskan. Longboat utama berhasil strike dua GT monster (Cepy dan Pak Imam), juga beberapa ikan GT besar lain dan barakuda besar. Longboat saya kurang beruntung, hanya GT kecil dan beberapa barakuda sedang. Pak Handoko dan Darwan, melihat lokasi yang sangat cantik ini lebih memilih kasting dengan piranti kecil, jadi chance mendapatkan monsternya menjadi berkurang.

Tak terasa hari ketiga pun datang. Panas-nya Raja Ampat semakin terasa menyengat di kulit. Meski begitu Kapten D yang menjadi pengemudi di longboat utama tetap saja melaut tanpa memakai baju. Ini adalah hari terakhir bagi teman-teman pancinger dari Timika bersama kami. Esok mereka akan kembali ke Sorong lalu menuju ke Timika untuk kembali ke ‘hobi’ masing-masing di PT. Freeport Indonesia. Jelas hari ini mereka akan tampil all out. Berbekal pengalaman pada hari-hari sebelumnya, kali ini kami tidak mau membuang tenaga percuma saat arus di reef-reef tengah Selat Dampier sedang mati atau lemah. Jadi kami hanya memaksimalkan waktu saat arus bergerak deras saja. Dan karena waktu yang ada tidak banyak, dalam sehari hanya saat menjelang siang dan menjelang petang saja, waktu kami mengeksplorasi reef tidak banyak. Namun hasil hari terakhir ini cukup fantastis. Rombongan Timika berhasil memancing beberapa GT monster dan ikan pelagis lain berukuran besar (barakuda dan tenggiri). Semuanya dengan teknik popping. Sayangnya ada satu joran PE8-10 menjadi korban keganasan monster Raja Ampat, patah. Namun begitu, ikan GT monster nya tetap berhasil dinaikkan.

tmikecepy-tenggiri

Hari berikutnya Tim Timika sudah melaju ke Sorong saat pagi masih redup. Tinggalah Tim MMT7 dan Tim Surabaya yang tinggal. Berarti tinggal 5 orang saja yang tersisa. Kini hanya diperlukan satu longboat untuk memancing. Suasana menjadi lebih sepi dengan pulangnya kawan-kawan Timika, namun mobilitas kami jujur saja menjadi semakin lincah karena kini hanya ada satu longboat saja yang siap diarahkan kemanapun ke penjuru Selat Dampier. Kapten L mengantar kawan-kawan ke Sorong, jadi kami hanya ditemani oleh Kapten D saja. Lucu, cukup sebutkan kode “buka segel kapten”, maka Kapten D langsung membawa kami ke spot-spot baru yang luar biasa. Atau sebutkan “oksigen!” untuk menggantikan kata “istirahat” yang bisa berarti merapat ke pulau atau berhenti popping.

Kami semakin bergerak ke sisi timur Selat Dampier, ke arah laut lepas. Ada banyak pulau di areal ini (Pulau Dua, dan lains ebagainya). Disini ternyata kondisi reefnya lebih gila. Banyak reef dan arusnya lebih deras. Kala-kala (upweilling) ada dimana-mana. Dan ikan umpan yang boiling di permukaan, alamaaaak, seperti di raksasa di pasar-pasar ikan saja saking banyaknya ikan umpan. Bunyi kecipak ikan umpan ini sampai seperti bunyi aliran air sungai yang sedang banjir saja. Sungguh surga mancing di bumi Raja Ampat ini. Dan semua piranti popping kami, mau yang merk keren ataupun merk culun, popper biasa ataupun popper mahal, semua laku keras. Mencari double strike bukan hal sulit. Tinggal lempar ke atas reef, tepian reef atau ke sekitar ikan umpan, maka akan langsung “BUUUUM!”, popper disambar. Hanya saja, saking banyaknya ikan pelagis macam tenggiri dan barakuda, banyak leader kami putus dan popper rusak. Padahal yang kami harapkan adalah GT yang besar-besar saja. Hari ini kami benar-benar puas! Tak terhitung strike yang kami dapatkan. Ikan yang kami dapatkan pun sangat variatif, padahal hanya dengan teknik popping saja. Ada tenggiri, GT, big eye trevally, barakuda, red bass, dan juga kerapu.

Hari berikutnya kami kembali melaut. Cuaca mendung dan sedikit rintik hujan. Tiba-tiba cuaca berubah drastis dibandingkan dengan hari kemarin yang panasnya demikian menyengat. Arus di berbagai reef di tengah Selat Dampier tetap dinamis. Namun angin kencang dari arah utara membuat kami tidak fokus memancing karena khawatir. Siang hari kami memutuskan merapat di sebuah desa di Pulau Batanta, jauh dari basecamp kami, untuk melihat-lihat. Desa yang kokoh.

Sebenarnya jumlah dan size ikan yang kami pancingi selama di beberapa hari disini telah lebih dari cukup. Namun karena kami telah jauh-jauh datang ke ‘surga di bumi’ ini demi memancing, maka waktu yang tersedia kami maksimalkan. Meski sebenarnya, jujur saja, raga juga lelah. Lelah yang menyenangkan. Namun pada hari terakhir ini kami telah membuat deal dengan para warga kampung untuk setuju bertanding sepakbola. Kru MMT7 ditambah pemancing Surabaya dan abk+kapten, melawan warga kampung. Tantangan yang menyenangkan juga. Apa susahnya bermain bola? Maka kami berjanji pulang lebih awal demi menggelar final Liga Champion versi Kepulauan Raja Ampat. Haha! “Tolong lapangan dan gawang disiapkan!” pesan kami saat berangkat mancing kepada warga kampung. Dan saat kami pulang, ternyata persiapaan yang dilakukan ternyata sangat serius. Termasuk para supporter lokal telah siap di pinggir lapangan; ibu-ibu, nenek-nenek, dan anak-anak kecil. Tak perlu diceritakan panjang lebar, setelah bermain 30 menit kali dua, kami kalah telak!!!! Ternyata bermain bola melawan penduduk asli Papua seperti bertanding sepakbola melawan kawanan kuda liar, mereka berlari seperti angin! Padahal udara sangat panas!!!***naskah dan foto by Michael Risdianto

BACA BAYU TAKLUKAN GT MONSTER

Comments

comments

Comments are closed.