Asiknya Berburu SpotMancing di Ciliwung

kopi2_-menyebrangi-anak-sungai-untuk-mencapai-spot-copy

Berawal dari obrolan bersama sahabat saya yang bernama Apuh, bahwa ia mendapat  informasi dari seorang kawan di pekerjaan sehari hari tentang spot mancing, Apuh yang merupakan pancinger spesialis sungai terutama sungai ciliwung ini menyampaikan kepada Ruli, Bangkit, Vommy, Cepot, Pepen dan beberapa orang pancinger lainnya untuk segera mengeksplore lokasi tersebut, namun karena sebagian besar pancinger ini adalah para pekerja yang jadwal libur kerjanya sangat mepet dan tidak bersamaan akhirnya penetapan jadwal berangkat mancing jatuh tanggal 7 Juli 2016, bertepatan dengan hari kedua Iedul Fitri 1437H. Apa boleh buat, akhirnya sekitar 14 orang pancinger ini pun bersepakat bagaimana caranya bisa berangkat bersama pada tanggal yang sudah di tentukan tersebut.

Cuaca pada tanggal 7 Juli di kawasan Gadok puncak di selimuti gerimis tipis, saya yang sudah tiba di tempat pertemuan dengan para pancinger sejak pukul 19.00 malam pun sudah sedikit basah karena sepanjang perjalanan terkena gerimis, tak lama berselang beberapa orang sahabat seperti cepot, apuh, vommy dan bangkit pun tiba di kediaman Ruli, sambil menunggu yang lain datang kamipun ngopi ngopi sambil berdiskusi sambil membicarakan kemungkinan berangkat malam ini atau besok subuh karena hujan turun semakin deras, melalui beberapa pertimbangan akhirnya kami putuskan untuk berangkat esok pagi usai solat subuh karena malam ini sepertinya cuaca akan sangat tidak bersahabat, maklum saja karena trip kali ini kami semua mengendarai motor saja.

Kabut masih menyelimuti setiap sisi di kawasan puncak, mungkin karena semalam hujan deras membuat suhu menjadi sangat dingin, seluruh peserta trip eksplorasi pun sudah berkumpul di tepi jalan depan Wisma PLN Cipayung dimana kami jadikan sebagai meeting point sebelum berangkat, briefing kecil sekedar mengingatkan agar semua tetap berhati hati dalam perjalanan dan tidak kebut kebutan menjadi agenda penting untuk mencapai lokasi mancing, dan kami pun segera meluncur dengan barisan rapi. Dua jam sudah kami memacu kendaraan, melewati perkampungan, bukit bukit, hutan pinus, perkebunan sawit, namun belum nampak kepala rombongan mengajak untuk berisitirahat sampai di sebuah pasar kecil di daerah Cikidang ia baru menghentikan laju sepeda motornya, rupanya di sana ia mengajak kami untuk berbelanja kebutuhan logistik selama beberapa hari ke depan, di saat yang lain belanja keperluan sebagian lainnya memanfaatkan untuk menyundut sebatang rokok. dan perjalanan pun berlanjut, masih dengan formasi awal.

kopiii-apuh-strike-ikan-senggal-kecil-copy

Apuh strike ikan kecil namun tetap asik

Perjalanan semakin berat dirasakan, terutama bagi kami yang motornya sudah "berumur", tanjakan, turunan dan tikungan tajam berliku liku menyambut kami, bagi siapa saja yang tidak berhati hati di jalur ini akan sangat mungkin mendapat celaka, oleh karenanya kamipun mengurangi laju kendaraan dan menambah kewaspadaan. Abu, seorang pemuda dari kampung Nangkolo yang merupakan sahabat dekat apuh di tempatnya bekerja sudah menunggu kedatangan kami, ia bersama keluarganya menyambut hangat kunjungan para pancinger dengan menyajikan kopi panas dan kue kue khas lebaran. Rupanya kedatangan kami ini sudah terdengar oleh wak Asep, beliau adalah seorang pemancing sepuh di daerah tersebut, wak asep yang masih kerabatnya abu pun bersedia menemani kami mancing sepuasnya, ia menceritakan masih banyak sekali ikan yang terdapat di sungai ini , akan tetapi saat ini sebenarnya belum pas moment kami datang karena masih sering datang hujan dalam intensitas yang tinggi. kepalang tanggung sudah sampai di lokasi dan mancing pun harus tetap di laksanakan.

Sudah lewat jam dua siang, dan kamipun sudah cukup beristirahat. tanpa banyak basa basi segera saja kami berangkat ke sungai yang lokasi tepat di bawah perkampungan, cuma 10 menit berjalan kaki kami sudah tiba di titik pertama, pancinger yang sebagian besar beraliran jebluk (dasaran) ini segera mencari posisi terbaik, meski air terlihat begitu keruh dan tinggi tidak menyurutkan  semangat mereka, saya masih belum mendapat feeling makanya santai santai saja sambil mengabadikan gambar gambar di seputar lokasi, bagi para pemancing yang beraliran casting tentunya ini akan sangat sulit mendapatkan ikan, para predator tidak akan melihat atau merasakan action umpan buatan ang di gunakan untuk menipu mereka karena keruh dan derasnya air. Tapi bagi Bangkit dan Vommy tidak perduli kondisi tersebut, mereka tetap Casting.

kopi4_-ruli-membuka-perolehan-dengan-strike-hampala-copy

y

Bersama Ruli dan beberapa kawan saya coba mengeksplore agak ke bawah, meniti bebatuan licin, semak semak pinggir sungai, sangat memompa adrenalin tapi cukup menyenangkan bagi saya. sampai kami tiba di sebuah jembatan bambu yang biasa di gunakan warga untuk menyebrang, di bawah jembatan tersebut ada titik titik yang sangat potensial untuk menjadi tempat ikan bermain, mereka pun berbaris rapi

Menggunakan rangkaian dasaran berbandul timah seberat 30gram, kail karbon no.3 dan berbagai macam umpan dasaran yang sudah mereka siapkan sebelum berangkat, mereka pun mulai memilih titik lempar masing masing, lalu dengan sabar menunggu ikan makan umpan.  Seyengah jam menunggu akhirnya ada pertanda bagus, umpan cepot di makan ikan lalu di bawa ngacir turun mengikuti arus, Cepot yang terkaget kaget coba mengimbangi ikan, namun terlambat sudah karena ikan keburu masuk ke bebatuan dan tidak mau keluar, hingga akhirnya line putus karena tergesek gesek oleh batu, ikan pertama mocel. yang lain makin bersemangat.

Ruli tampak bersiap, rupanya ia sedang merasakan ada ikan yang tertarik oleh umpannya dan sedang coba mengigitnya malu malu, hingga tiba tiba benangnya berlari tertarik kencang, seekor ikan telah memakan umpannya dan membawa kabur umpan, namun ruli yang sudah siap buru buru mengangkat ujung joran agar kepala ikan tetap berada di atas dan tidak sempat masuk ke bebatuan, dengan sedikit usah karena tempat yang sulit (jembatan kecil) ia menggiring ikan yang meronta ronta itu ke tepi sungai, saya menyambutnya dari pinggir, lalu menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri seekor ikan Hampala berhasil di daratkan dengan sempurna. setelah di ukur dan di poto ikan di lepas liarkan kembali.

Hari menjelang senja, kami pun bergeser ke hilir lagi, di antar oleh wak Asep ke lokasi ia biasa memancing, menuruni lembah lembah kecil, dan harus menyebrangi sungai melewati bebatuan yang licin, saya pun sempat tergelincir dan terjerembab ke air, untunglah airnya tidak dalam. namun wak asep mengantarkan kami ke lokasi yang lumayan bagus meski airnya juga keruh. arus airnya agak tenang dan agak dalam seperti kedung sungai pada umumnya, disinilah kami mulai mancing kembali.

kopi-1_-jamuan-makan-nasi-liwet-dan-kawan-kawannya-khas-orang-sunda-copy

Pepen yang menggunakan ulat kayu sebagai umpan andalannya lebih beruntung, tidak lama ia memposisikan kail di balik batu besar ikan sudah menyerang umpan tersebut, karena jorannya agak panjang dan lentur (ciri khas joran pemancing sungai) perlawanan ikan terlihat sangat seru, membuat kami berfikir ikan besarlah yang telah memakan umpannya, sampai akhirnya berhasil pepen mendaratkan rupanya ikan lele lokal atau ikan lendi menurut warga setempat, ukurannya tidak besar karena memang ikan ini paling besar hanya sampai setengah kilogram saja.

Awan gelap dan pekat terlihat di hulu, wak asep mengajak kami untuk segera menepi dan balik kerumah abu karena khawatir air akan besar tiba tiba, dan kami menuruti himbauan tersebut. Sampai di rumah Abu kami sudah di sambut dengan hamparan nasi liwet dengan lauk ikan asin dan tiga jenis sambal khas makanan sunda, sungguh membuat nafsu makan ini kembali meledak. kami duduk rapi mengitari hamparan daun pisang di lantai, sebentar membaca doa sebagai rasa syukur atas anugrah tuhan yang maha esa kamipun langsung menuntaskan "acara adat" ini, tidak butuh waktu lama, semua makanan ludes tak bersisa, nikmat sekali makan rasanya.

Sekitar pukul 20.00 malam kami semua kembali ke sungai, target malam ini kami akan mancing dasaran sampai pagi, berharap kalau beruntung bisa mendapatkan ikan Sidat (menurut masyarakat di sebut ikan Lubang). suasana gelap gulita, bebatuan licin yang kami pijak di balut udara dingin sehabis hujan sore tadi, binatang liar seperti ular dan lainya bisa saja kami temui di saat mancing seperti ini, oleh karena kita harus extra hati hati dalam memancing di alam liar, segala kelengkapan safety harus di utamakan seperti sepatu boot, headlamp dan lain lain untuk menghindari kemungkinan terburuk.

Malam ini hanya dua ekor ikan yang berhasil kami dapatkan, mungkin karena kondisi air yang kurang bagus juga umpan kami yang belum tepat, ikan genggehek (mystacoleucus marginatus) dan senggal (Hemiagrus) saja yang berhasil kami peroleh, melihat kondisi hujan dan air tidak berubah selama dua hari akhirnya kami memutuskan pulang dan mempersiapkan diri untuk moment yang tepat beberapa bulan ke depan. #Adf

Comments

comments

Comments are closed.