Rela Tembus Rimba Belantara Demi Ikan Semah Yang Exotic

FOTO 6 Sungai dengan arus jeram kami tempuh

Ditengah hantaman air bah dan hujan deras, dikegelapan malam ditengah hutan belantara dengan, kami berharap akankah esok hari mimpi kami terwujud demi seekor ikan exotic yang bernama "SEMAH"... ! Itulah status Facebook Achmadi NA sehabis berpetualang bersama istrinya dan Pujiastuti. Berikut ini bagaimana Achmadi menuturkan serunya menembus hutan belantara di Putussibau Kalimantan Barat pada akhir Juli 2016, kepada pembaca Berita Mancing.

Semakin gencar informasi yang kami dapatkan ikan semah semakin membara rasa penasaran kami untuk bisa menemuinya. Saking penasarannya saya, maka ketika ada waktu sebelum berangkat ke hutan Kalimantan, kami menyempatkan diri untuk melihat dan menyentuhnya langsung di sebuah air pemandian  wilayah di Cibulan Cirebon Jawa Barat. Dari menyentuh langsung ikan semah di wilayah Cirebon maka niat hati kami untuk bisa menaklukan ikan semah di alam liar, Kalimantan.

Ikan semah merupakan ikan yang memiliki nilai tinggi dalam sejarah bangsa ini. Di berbagai daerah dan adat, ikan semah menjadi ikan nomor satu, bukan hanya dagingnya yang uenak namun untuk mendapatkan ikan semah tidak mudah karena lubuknya ada di tengah hutan. Saking pentingnya ikan ini maka nenek moyang kita membuat adat dengan cara membuat lubuk-lubuk larangan seperti di Sungai Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Ikan semah sebenarnya nama ilmiahnya adalah Tor tombroides dengan Ordo`nya Cypriniformes (carps), termasuk dalam Klas Actinopterygii. Secara umum ikan ini memiliki nama Mahseer, yang tersohor di berbagai manca negara.

FOTO 1 Senang bisa menaklukan semah

Berbekal pustaka dan masukan dari kawan-kawan maka kisah berburu ikan semah di hutan belantara tepatnya di wilayah Putussibau kami mantapkan.  Semakin banyak  mendapat informasi tentang ikan semah, justru membuat saya semakin penasaran. Seperti apa sih ikan semah? Apa memang benar-benar susah  dipancing ? Dengan penuh rasa penasaran akhirnya saya bersama istri saya Puji Astutiagustina  sepakat untuk memancing ikan semah di hulu sungai rimba  Taman Nasional Hutan  Betung Kerihun dengan pemandu Budi Budap.

Untuk mendapatkan ikan yang menjadi impian para angler dunia inilah saya harus  menempuh perjalan yang panjang dari Pontianak lalu naik pesawat kecil menuju ke Putussibau. Dari desa Putussibau saya harus menembus jeram sungai selama 1,5 hari ke hulu sungai. Kami telah melewati petualangan yang menegangkan akhirnya kami saya mendapat ikan semah .. Ditengah hantaman air bah dan hujan deras, dikegelapan malam ditengah hutan belantara dengan, kami berharap akankah esok hari mimpi kami terwujud demi seekor ikan exotic yang bernama "SEMAH"... !

FOTO 3 lokasi nan indah

Si Raja Sungai Gunung
Bila di tengah hutan belantara harimau menjadi raja rimba. Demikian halnya dengan ikan semah yang berada di sungai. Kalau boleh saya sebut ikan semah  merupakan rajanya sungai, sebab ikan tidak hanya liarnya namun juga sangat lincah baik dalam berenang maupun memangsa umpannya.
Sebenarnya sukar bagi saya untuk menulis artikel ikan semah  ini tanpa disertai emosi. Karena kita bukannya memperbincangkan tentang ikan yang biasa, tetapi bercerita tentang ikan air tawar yang paling sukar untuk dipancing. Dan memang nyata betul informasi yang saya dapat.

Oke, perjalanan ke spot di butuhkan fisik dan nyali yang besar. Kami harus menaklukan sungai besar dengan arus yang ekstrem. Belum lagi hutan belantara ini memiliki hukum rimba dengan adanya bahaya binatang liar selalu ada. Bisa menaklukan nyali yang ciut dalam diri kita merupakan kemenangan yang besar. Itulah kemenangan psikis yang kami alami.

FOTO 4 teman di rimba

Seandainya kita tidak memiliki nyali kuat saat mancing ikan semah  maka kegagalan sudah pasti dekat. Syukurlah kami bisa melalui itu. Ya perjuangan menuju spot memang begitu liar, sebab habitat ikan ini memang berada di lokasi alam bebas terutama tempat yang sukar dijamah manusia atau menyeramkan.

Sungai yang deras dengan air yang bergemuruh karena menabrak  bebatuan yang besar-besar. Suara gemuruh air sungai benar-benar merupakan perang mental tersendiri. Bila Anda bisa menempuh dan mendapatkan “istananya” ikan ini sungguh suatu hal yang luar biasa. Bahkan kami harus waspada terjadi banjir bandang yang datang dari hulu sungai.

FOTO 2 bermain di spot rimba

Pada malam hari saat kami bermalam di hutan belantara kami harus mencari tempat yang tinggi agar tidak kena air bah. Ini sungguh nyata..,  alarm jam kami terus berbunyi menandakan adanya storm/ badai. Peka akan adanya badai atau banjir dari hulu yang ditunjukan oleh jam tangan canggih saya maka saya pun memilih tempat aman untuk bermalam dan berlindung. Woow 5 jam kemudian banjir bandang itu datang menghanyutkan kayu-kayu besar. Syukur pada Mu Tuhan kami selamat.

Perjalanan ke hulu sungai untuk berkunjung ke “istana” ikan semah memerlukan perjuangan mental. Barangkali bagi Anda yang pernah nonton film Anaconda, lokasinya lebih seram dari film itu. Untuk mendapat  lokasi spot, kami   harus menembus derasnya sungai dengan ketinting. Sering kali kami harus jalan kaki diantara  batu-batuan terjal dan tajam sepertinya tidak bersahabat. Keberhasilan melalui rintangan itu merupakan kemenangan tersendiri, meskipun belum mendapat ikan.

Rasa lega yang luar biasa ketika kami tiba di lokasi spot sungai hulu. Airnya yang jernih itu menyejukan badan jiwa kami. Hemm indah sekali.Rasa lelah capek dan perjuangan yang panjang seketika itu hilang dan menjadi sesuatu yang indah. Oh indah yang terkatakan.

Kami tidak buru-buru mengeluarkan pancing namun kami terlebih dahulu bersyukur bisa menembus belantara dan mencapai spot hulu sungai.  Dengan menarik nafas lega maka mensyukuri nikmat Tuhan, maka kamipun mengeluarkan pancingan untuk mewujudkan mimpi itu.

Oke kini saatnya casting…! Saya dan istri saya terus memainkan lure demi lure untuk menarik perhatian ikan semah.

dapat satu

Kami terus casting tiada lelah. Dan ketika lure lenggang lenggok gerak kanan kiri,tiba-tiba ada bayangan hitam keluar bebatuan hal ini membuat  jantung ini ikut berdetak kencang. Tiba-tiba duarrr sreett…sreett kenur pancing menegang . Ternyata ikan semah mulai menyantap umpan. Wow…., sungguh luar biasa. Ikan ini membawa umpan saya dan ia melesat bagaikan sebuah peluru dan membawa lari umpan di balik bebatuan serta pohon-pohon rubuh.

Bagaimana bila hal ini Anda mengalami hal sama seperti saya ?? Andaikan Anda bisa mengatasi hal ini bukan berarti masalah langsung selesai. Anda akan berhadapan dengan masalah berikutnya yaitu makhluk liar ini pertama-tama akan menghunjam ke bawah bagaikan terpedo membawa lari ke tunggul-tunggul kayu berhamburan. Kejadian ini membuat kami pusing tujuh keliling.

Meski sudah terkait pancing mulutnya namun ikan ini tidak menyerah begitu saja.  Dengan segenap tenaga atau istilah sampai titik darah penghabisan ikan semah berusaha melepaskan diri biarpun sudah sampai ke pinggir dan Anda tinggal menyeroknya.

Woww..setelah saya  berhasil mendaratkan  rasa puas yang luar biasa. Oh nikmatnya bisa menaklukan ikan semah ini.  Sambil mengelus-elus ikan saya pun saya   bersorak dengan penuh kegembiraan “ Aku Bisa…..!!!! Aku menang….!!! Aku Berhasil…!!!!”. Hal itulah yang pertama saya teriakan setelah mendapat ikan semah pertama. Kalau boleh saya umpamakan pertarungan hebat dengan “si raja sungai gunung” ini bagaikan sebuah legenda. Dimana kenikmatan yang  kami dapat tidak mudah terhapus begitu saja.

Kami berdua sungguh menikmati kegembiraan yang luar biasa, lantaran kami bertubi-tubi mendapatkan ikan semah. Sungguh nyata bahwa ikan semah telah menguji kami  baik fisik psikis sampai kemahiran memancing. Bukan itu saja peralatan kami gunakan, tetapi juga saat mencari mencari lokasi ikan (istana) saat memburunya.

FOTO 7 bersama dengan putri dayak

Dalam petualangan memburu semah di jantung dunia Kalimantan itu,  semakin berkesan menyenangkan karena kami diterima oleh suku Dayak Pedalaman  dengan sangat ramah. Bahkan kami diberi nama Dayak sebagai rasa persaudaraan atas kunjungan kami di sana. Alhamdulilah catatan petualangan ini akan kami kenang selama.***Achmadi NA – Pujiastuti Agustina.

 

 

 

Comments

comments

Comments are closed.