Berburu Capit Biru di Rantau Baru

Sebagian peserta berfoto dahulu sebelum mulai memancing  udang.

Sebagian peserta berfoto dahulu sebelum mulai memancing udang.


Minggu subuh (15/03/2015) ketika jalanan lagi sepi, saat itu jarum jam menunjukkan pukul 04.00 WIB, para pemancing yang tergabung dalam klub MAs GiMun (Mancing Asyik Gigi Mundur) sudah mulai berangkat. Tujuannya adalah Desa Rantau Baru, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Jarak tempuh dari kota Pekanbaru sekitar 100 km.
Hari itu adalah pelaksanaan acara Tribar (Trip Bareng) yang diselenggarakan oleh klub MAs GiMun dan grup Komunitas Pemancing Riau (KoPeR). Anggota klub MAs GiMun juga merupakan anggota grup KoPeR. Klub ini dicetuskan oleh anggota KoPeR yang hobi memancing udang galah (Macrobrachium rosenbergii). Udang galah ini dikenal juga dengan sebutan si Capit Biru.

 
Pasti banyak yang bingung, apa itu GiMun (Gigi Mundur)? Ini bukan istilah untuk bidang otomotif. Ini hanya istilah untuk menggantikan kata udang. Karena udang itu kalau berenang gerakannya mundur. Makanya disebut dengan gimun alias gigi mundur. Sehingga klub memancing udang ini dinamakan MAs GiMun (Mancing Asyik Gigi Mundur).

 

Sebagian peserta berjalan menuju boat yang telah  disediakan.

Sebagian peserta berjalan menuju boat yang telah disediakan.

Setelah menempuh dua jam perjalanan, akhirnya para pemancing udang pun sampai ke Desa Rantau Baru. Desa ini dilalui oleh salah satu sungai besar di Riau yaitu sungai Kampar. Muara sungai ini terkenal dengan gelombang bono yang mendunia. Tempat para peselancar dunia mencoba keganasan gelombangnya. Menuju hulunya sungai ini bercabang dua menjadi Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Pada bagian hulu Kampar Kanan dibendung untuk pembangkit tenaga listrik. Danau bendungan inilah yang dikenal dengan danau/waduk PLTA Koto Panjang, yang terkenal dengan monster tomannya.

 

Udang juara pertama yang didapat oleh Leo Uchia

Udang juara pertama yang didapat oleh Leo Uchia

Sekitar pukul 06.00 WIB sebagian besar peserta tribar sudah berdatangan. Peserta untuk tribar ini mencapai 60 orang lebih. Untuk menuju spot telah disediakan 11 boat besar yang di sini disebut pompong. Masing-masing pompong dapat memuat 5 pemancing. Selain itu ada juga 5 boat kecil yang disebut robin. Masing-masing robin memuat 2 orang pemancing.

Udang juara ketiga yang didapat oleh Nick Vincent  Wimko

Udang juara ketiga yang didapat oleh Nick Vincent Wimko

Setelah semua peserta menaiki pompong dan robin maka masing-masing boleh memilih spot yang diingininya sepanjang sungai. Disepakati untuk berkumpul kembali di pos awal pada pukul 16.00 WIB. Untuk memeriahkan tribar maka diadakan turnamen sederhana. Para pemancing yang mendapat udang galah tiga terbesar akan mendapat hadiah. Kemudian tiap tim yang mendapat udang terbanyak juga mendapatkan hadiah.

 

Udang juara kedua yang didapat oleh Fajar Wiriadi

Udang juara kedua yang didapat oleh Fajar Wiriadi

Setelah sampai di spot, maka masing-masing pemancing menggunakan kemampuannya untuk memancing udang. Memancing udang ini agak unik. Uniknya dapat dilihat dari perangkat yang khusus untuk udang, kemudian juga dari teknik menggunakan pancingnya. Memancing udang memakai teknik dasaran. Hal ini karena udang hidup di dasar sungai.
Rod atau joran pancing udang harus lentur. Karena jika keras maka sentakannya bisa melepaskan mata kail dari mulut udang. Mata kail (hook) untuk pancing udang juga khusus dan biasanya tanpa ruwit (barbless). Sedangkan cara menarik pancing ketika dimakan udang harus pelan sekali dan tanpa sentakan. Untuk umpannya dapat menggunakan cacing tanah, anak udang dan pumpun. Pumpun adalah sejenis cacing yang hidup di tepi laut, biasanya berukuran panjang.
Saat memancing udang, terdengar sorakan peserta di masing-masing pompong. Siapa yang mendapat udang maka selalu diiringi dengan teriakan, sorakan dan ketawa. Semuanya tampak bergembira. Memang peserta tidak selalu mendapat udang. Adakalanya ikan-ikan kecil lainnya juga ikut terangkat. Apalagi jika peserta mendapat ikan baung pisang (Bagroides melapterus), maka peserta lain akan menyorakinya. Karena ikan ini paling tidak disukai disebabkan lendir yang tebal memenuhi kulitnya.

Udang remaja yang didapat oleh Hass.

Udang remaja yang didapat oleh Hass.

Akhirnya, sekitar pukul 16.00 WIB para peserta pun sudah mulai berkumpul lagi di pos awal. Saatnya penilaian udang yang didapat oleh masing-masing peserta. Hanya dengan membandingkan udang yang didapat, dan tidak perlu menimbang beratnya maka ditetapkanlah pemenangnya. Peserta yang mendapat juara pertama adalah Leo Uchia, kemudian juara kedua Fajar Wiriadi dan juara ketiga adalah Nick Vincent Wimko. Ketiganya berhak mendapatkan hadiah yang telah ditentukan.
Dalam kegiatan seperti ini, hasil mancing bukanlah yang utama. Tetapi kebersamaan, kekompakan dan canda tawa itu yang menjadi prioritas. Bahkan ajang seperti ini justru untuk menambah pergaulan dan pertemanan. Banyak di antara peserta yang belum kenal satu persatu yang akhirnya dengan acara ini dapat saling mengenal.

Penulis,
Hass Farmadines (Hasrijal Farmaduansa)
Email: farmaduansa@yahoo.com

Comments

comments

Comments are closed.