Rock Fishing Jogya Mancing Paling Ekstrim Sedunia

BERITA UTAMA 1 harus waspada sapuan ombak

Rintangan berat bukanlah halangan untuk mencapai sebuah kenikmatan. Menembus hutan rimba, menapak batu cadas yang keras, naik turun jurang batu karang tegak lurus 90 derajat dengan ketinggian ratusan meter tanpa pengaman, hanya akar pohon yang jadi pegangan di bawahnya batu karang yang super tajam. Hanya pancinger bernyali tinggi, crazy, gila dan kenthir yang mau menjalani ini. Kekenthiran pancinger Jogya dalam memburu ikan-ikan di pinggir pantai berkarang mengundang, Joe Mich, Andry sugianto, Ugi, Michael Risdianto , Wawan dan Marcus Berita Mancing untuk terjun langsung merasakan aliaran hard rock fishing in the world bersama Jogya Kenthir Rock Fishing Team.
Bicara soal mancing di Jogyakarta (Jogya) memang beda dengan daerah lain di Indonesia. Dari segi wilayah geografis Jogya memiliki perbatasan laut langsung dengan samudera Indonesia. Meski memiliki Samudera namun tak mudah menembus lautan di sana. Kondisi alam sepanjang Pesisir Selatan Jogya adalah bukit gunung karang terjal menghadap samudera dan pantai berpasir gumuk dengan gulungan ombak samudera yang maha dahsyat, hal inilah yang menjadi penghambat untuk melaut. Bukan pancinger Jogya kalau tidak bisa memanfaatkan alam yang ada, mereka lantas memilih memancing land base dengan cara mancing karangan (rock fishing) dan pasiran (beach casting), keunikan cara memancing inilah yang menjadi ciri khas Jogya untuk tetap memancing.

BERITA UTAMA 1 menantang maut

Dua aliran mancing land base di laut ini ternyata banyak di gemari pancinger Jogya yaitu mancing pasiran (beach casting) dengan lokasi di pantai Parangtritis ke arah barat. Sedangkan mancing yang paling ekstrim di dunia adalah mancing karangan atau rock fishing, dengan lokasi di wilayah Gunung Kidul membentang ke arah Timur. Rock fishing di Jogya tergolong memancing yang ekstrim, crazy, gila, alias kenthir.

BERITA UTAMA 1 menembus hutan

jalan kaki menembus hutan jati untuk menuju spot rock fishing

Tembang kerasnya alam mulai kami rasakan sejak melalui trek jalan naik ke timur dari Pantai Parangtritis. Tanjakan tajam dengan batu cadas dan perkampungan yang tandus, kering, jelas membuat betapa kerasnya alam yang ada. Kami turun dari mobil dan masuk ke sebuah warung sebagai base camp kami.
Di tengah kerasnya alam ternyata kami menemukan orang-orang yang hidup sederhana, hidup dengan lemah lembut menyambut kami. Alam boleh keras namun orang di desa sangat lembut dan sopan. Kami sempat berbincang bertanya kepada mereka bagaimana menyiasati ditengahnya alam yang tidak menyediakan air? “Desa kami tidak ada mata air, maka kami membuat tendon air hujan untuk kami pergunakan minum selama satu tahun. Kalo tendon air habis maka kami beli air 1 tangki seharga Rp. 160 ribu, selama musim kemarau kami butuh 6 tangki mobil,” cerita Pak Basuki. “Lalu makanan anda sehari-hari apa?” tanya Pak Joe. “Singkong pak, gak pernah makan daging, ya beginilah kami pak. Gak usah ngoyo, bukankah urip mung sakedar mampir ngombe,” kata Simbah penunggu warung seolah-olah memberi petuah kepada kami. Hidup hanya sekedar mampir ngombe. Nah filosofi inilah yang melandasi bagaimana mereka bertahan hidup di alam yang tak menyediakan air.
Jam 6 pagi kami tiba di desa paling ujung arah ke Gua Langse, tepatnya di desa Ngeprih itulah menjadi tempat kami untuk sebagai base untuk menuju spot rock fishing yang paling esktrim yaitu Mbecici. Dari desa Ngeprih inilah para porter menunggu kami. Dan Di desa Ngeprih inilah kami bertemu dengan sadulur para porter seperti Basuki dan kawan-kawan. Setengah jam kemudian rombongan Jogya Kenthir Rock Fishing Team yang dikomandoi Mas Londo dan kawan-kawan datang menurunkan semua perbekalan. “Khusus trip kali ini kami menggunakan dua tim, tim pertama adalah tim pendahulu yang sudah datang ke lokasi, tim kedua adalah ngetrek bareng ke lokasi,” jelas mas Londo.

FM8A4592

kami berjalan menyusri lebat hutan jati

Menembus hutan Jati
Semua pancinger sudah kumpul di desa Ngeprih dan sudah siap melakukan perjalanan ke spot Mbecici. Beberapa orang masih mengumpulkan porter maklum di desa tak banyak yang menjadi porter, dalam trip ini kami memakai 10 orang porter karena pertimbangan banyaknya barang bawaan yang kami banyak. Saat para porter sarapan saya sama Pak Ugi dan Anom (pancinger Jogya) memilih jalan lebih dahulu. Pertimbangan saya adalah badan saya gemuk, tidak seperti para pancinger rock fishing dan para porter yang rata-rata badannya atletis, sehingga saya harus banyak istirahat di dalam perjalanan.
Saya mencuri start jalan duluan dari rombongan. Dari desa Ngeprih kami langsung trekking menembus hutan jati. Pohon jati kering yang meranggas dan rontok daunnya merupakan tanaman yang bisa hidup ditengah tanah berbatu. Menembus hutan jati bila tanpa pemandu atau orang yang sudah tahu trekingnya, orang bisa tersesat, karena semua jalan setapak sama bentuknya. Jadi hanya orang yang hapal betul yang tahu jalan.
Kaki saya terus berjalan menyusuri terjalnya batu karang di tengah hutan jati. Sesekali kami berhenti untuk mengambil nafas. Di separuh perjalanan saya istirahat sambil menunggu rombongan di belakang saya. Kurang lebih 30 menit rombongan datang dan mereka pun juga menghela nafas untuk istirahat.
Kami melanjutkan perjalanan berikutnya mendaki bukit. Kaki saya terasa sangat berat, saat menapak batu karang. Nafas mulai tesengal-sengal. “Ayo mas, jaraknya tak jauh lagi,” kata Anom memberikan semangat kepada saya. Benar saja dari kejauhan saya sudah mendengar deburan ombak di balik bukit. Saya terus memaksa untuk berjalan menuju balik bukit.

BERITA UTAMA 1 menuruni jurang

merambat hanya berpegangan akar dan dinding karang di pintu plawangan trek yang paling membahayakan

Plawangan Gerbang Rock Fishing
Bukit berbatu cadas sudah kami lalui dan akhirnya kami sampai di pinggir tebing juram yang menghadap samudera. Kami semua berhenti untuk menghela nafas dalam-dalam setelah menempuh perjalanan panjang. “Ini namanya Plawangan. Artinya pintu, yang merupakan gerbang untuk mancing rock fishing. Trek selanjutnya adalah membuka pintu dan menuruni tebing jurang dengan kemiringan 90 derajat. Tak ada pengamanan, kita hanya berpegang sama akar pohon dan batu karang. Kayak orang climbing.” Kata Mas Londo menjelaskan trek yang akan kami lalui.
Mendengar penjelasan Mas Londo, semangat dan mental saya langsung runtuh. Jujur saja saya takut. Kalo ujian jalan kaki naik turun bukit sudah lulus, namun untuk menuruni jurang vertical yang dibawahnya batu karang besar jelas membuat nyali saya surut. Saya lalu berdoa untuk memintai pertolongan Tuhan agar menatang dan menjagai setiap langkah kaki.
Satu persatu kawan-kawan saya mulai mengetok pintu Plawangan dan menuruni jurang. Saya pandangan mereka satu persatu menghilang menuruni jurang Plawangan. Kini tinggal saya dan Wawan wartawan senior Trans 7. “Biar saya di sini saja, saya takut,” kata saya kepada Wawan. “Jangan mas, di sini banyak monyet dan aku pandu ke bawah,” kata Wawan menguatkan hati saya. Akhirnya saya menuruni jurang dengan dipandu Wawan. Ia begitu sabar mengajari kami setiap kaki menapak dan tangan memegang akar dan batu. Satu demi satu pelan-pelan dinding terjal vertical mulai kutelusuri. Saya tidak berani memandang ke atas, ke bawah atau ke belakang, mata saya hanya konsentrasi pada akar dan dinding yang kami pegang. Pelan namun pasti saya merayap seperti laba-laba menuruni dinding. Ini adalah perjuangan hidup mati. Salah injak atau salah pegang bisa terpeleset dan fatal akibatnya, untuk itu saya harus konsentrasi penuh.
Perjuangan saya membuahkan hasil karena saya berhasil mencapai tempat peristirahatan. “Puji Tuhan, akhirnya saya sampai,” kata saya mengucap syukur kepada Tuhan. Satu persatu mereka memberikan selamat. Bagi saya tempat peristirahatan di pinggir batu karang ini merupakan target jadi soal memancing ikan adalah bonus semata.

BERITA UTAMA 1 hotel bintang tujuh sebagai tempat istirarahat

Hotel bintang 7 tempat kami menginap di spot rocj fishing

Hotel Bintang Tujuh
Tempat peristirahatan kami adalah di bawah bongkahan batu karang yang besar. Lokasi itu kami pergunakan untuk istirahat tidur. Kami menyebutnya dengan nama “hotel bintang tujuh” dimana kami tidur beralaskan batu karang, beratap langit dengan view langsung menghadap samudera raya. Hemm indah sekali. Saya dan beberapa kawan langsung merebahkan diri untuk istirahat dan sebagian menikmati kopi untuk merayakan kemenangan telah berhasil mencapai “hotel bintang tujuh”. Lantaran hari sudah siang, sebelum memancing kami makan bersama di hotel bintang tujuh dengan menu sambel bawang dan pete.
Uncal di atas Karang
Kini saatnya ngenthir beraksi. Setelah istirahat di bawah bongkahan batu karang, kini saat uncal umpan di atas karang. Di Karang Mbecici ini ada dua lokasi favorite untuk memancing yaitu sebelah kiri dan sebelah kanan “hotel bintang tujuh”. Spot pertama yang kami tuju adalah spot kiri, dimana kami harus melewati rintangan yang berbahaya, dimana kita harus memanjat dinding batu karang, lalu merangkak ke tepian karang dan kita harus loncat kebatu sebelahnya. Hanya orang-orang yang berpengalaman yang mampu menembus itu. Padahal itu belum sampai di tujuan, dimana kami harus menyebrangi jembatan tali untuk mencapai karang di depan. Di sinilah kita bisa uncal mancing dasar atau poping dari atas batu karang.

IMG_9470

untuk menuju spot kami harus memanjat batu karang bagai spiderman

Spot di sebelah kanan “hotel bintang tujuh” tidak se-ekstrim yang kiri namun untuk menuju ke spot juga tidak mudah, karena kita harus memanjat banyak gunung karang. Sesampai di lokasi kita bisa uncal. Yang perlu di waspadai dalam spot ini adalah sapuan ombak.
Sepanjang malam kami mancing dan sambil menikmati deburan ombak samudra. Beberapa pancinger yang mancing dasar, nampak bahagia karena umpannya di sambar ikan-ikan dasar seperti kakap merah, kampur dan sebagainya. Sungguh luar biasa perjuangan mancing land base karangan atau rock fishing, rintangan dan medan berat bukanlah hambatan untuk mencapai kenikmatan. Salam rocker***marcus

Comments

comments

Comments are closed.