Spot Mancing Rumpon Pelabuhan Ratu Yang Mempesona

Spot mancing rumponRumpon dalam bahasa kelautan atau istilah yang dikenal dalam dunia memancing biasa dikenal juga sebagai rumah ikan. Ada pula yang menyebut sebagai karang buatan yang dibuat oleh manusia dengan tujuan sebagai tempat berkumpul ikan.
Rumpon merupakan rumah buatan bagi ikan di dasarlaut yang dibuat secara sengaja dengan menaruh berbagai jenis barang di dasar laut. Banyak bahan yang bisa dijadikan material untuk membuat rumpon, seperti ban, dahan dan ranting dengan pohonnya sekaligus. Barang-barang tersebut di masukkan dengan diberikan pemberat berupa beton, batu-batuan dan penberat lainnya sehingga posisi dari rumpon tidak bergerak karena arus laut.
Komunitas yang tergabung dalam Gadrut Laut Selatan rutin membuat rumpon, biasanya rumpon yang ditanam di sekitaran perairan Pelabuhan Ratu. Pemilihan Pelabuhan Ratu karena lokasi ini sebagai spot favorit para mania ketika trip dengan tim Gadrut.
Pada 21-22 November 2015, tim yang dikepala Fery Yudhistira dengan anggota Ibot, Ubay dan Fauzy mengadakan trip Rumpon, di PelabuhanRatu. “Pak Ibot dan kawan-kawan sebenarnya punya group mancing sendiri dengan nama Group Mocel,” ujarFery.

Akhirnya dileburlah trip ini antara Group Mocel yang berdomisili dari Bandung dan Bogor. Mengawali trip rumpon, tim berangkat pukul 20:30 WIB dengan mengunjungi spot pertama di Rumpon Cimaja. Sebagai informasi bahwa rumpon Cimaja merupakan rumpon favorit ketika trip bersama Fery.

pancingers pose dengan hasil trip1

pancingers pose dengan hasil trip

Cuaca malam itu cukup kondusif, mulai dari arus, ombak dan angin. Satu jam penuh penantian di rumpon Cimaja membuat jenuh tim. Dimana kami hamper dibuat mengantuk dengan frekuensi ikan makan yang amat jarang.
“Sangat jauh berbeda dengan trip dahulu ketika ada di rumpon Cimaja,” keluh Fery. Akhirnya tim menginstruksikan untuk pindah rumpon. Kapten Kudel membawa kami kerumpon Cidukul, jarang tempuh sekitar ± 12.5 mile dengan menggunakan mesin kapal berukuran 5 PK x 2 yang menjadi mesin Andalan kapal Gadrut.
Di spot rumpon kedua ini hasil tangkapan kami lumayan mendapatkan sambutan jika dibandingkan dengan rumpon pertama. Namun, tetap saja untuk hitungan memancing di rumpon hasil kurang memuaskan.
Tiba di spot Cikarate nampaknya angin dan arus tidak singkron. “Pusing kepala berbie, angina dan arus terus berubah,” ujarFery. Ketika kami berada di spot Cikarate, tim memancing dengan teknik ngotrek dasar khusus rumpon.

proses rumpon ketika akan ditanam di spot1

proses penanaman rumpon

Walapun angin dan arus terus berubah, ikan tetap menyambut kotrekan kami. Terlihat dalam titik kordinat kami, titik pancing kami melenceng hingga radius 30-50 meter dari rumpon. Bisa dikatakan inilah tangkapan sukses kami di rumpon yang kami kunjungi.
Walau menggunakan bandul timah dengan berbagai ukuran, mulai dari J6 hingga J12 kami berhasil menaikan kakap merah dan ikan kue. Tidak ada yang tidak strike dan fight di rumpon Cikarate. Setelah tiga jam box ikan kami sudah penuh dengan hasil pancingan kami.
Kami pindah ke Karang deet untuk memancing dengan teknik casting. Setibanya disana sudah ada tiga kapal dan kami hanya menjadi penonton ketika beberapa pemancing dari kapal yang berbeda berhasil strike dan fight.
Karena kalah start kami putuskan untuk kembali ke rumpon pertama. Ini menjadi obat penasaran karena tidak seperti biasanya ketika kami berada di rumpon Cimaja. Tiba di Cimaja, kami set kembali kotrekan dasar. “Wah, alhamdulillaj di Cimaja yang saat malam hari sepi, di hari kedua ini kami mendapatkan sambutan bagus,” jelas Fery.
Di siang hari kami mendapatkan serangan ikan kue dengan berbagai ukuran, walaupun tidak ada ukuran yang besar. Puas dengan serangan ikan kue, akhirnya kami sudahi trip memancing di rumpon Pelabuhan Ratu ini. Tim Gadrut

Comments

comments

Comments are closed.