Blusukan Di sungai Rimba Semarang

Peserta mancing rimba

Peserta mancing rimba nampak happy

nam

Satu hari menjelang acara Kopdar Barramundi, Saya, Achmadi dan Ibu Puji Astuti diajak oleh pancinger Semarang yakni Fery Nugroho, Pudjo Atmaji, Aik Sambernyowo bersama tim Maguro dengan komandannya Lastyo, Anjas asmara, dan Rachmad Wahjoe untuk mancing di sungai Rimba Semarang. Selain itu ada juga tim Sejati dengan Wahyu Utomo dan kawan-kawan serta tim Maguro Jawa Timur dengan komandan Aliandi dan Yohan yang ikut mancing.

Sungai nan jernih

Sungai nan jernih

Sabtu pagi tanggal 17 Oktober 2015, pesawat kami mendarat dengan selamat di bandara Ahmad Yani Semarang. Usai mengurus bagasi kami keluar dan langsung di sambut oleh Fery Nugroho dan Aiksambernyowo. Kemudian Fery Nugroho mengajak kami ke rumah Pudjo Atmaji untuk menunggu tim lain yang juga berencana mancing di sungai rimba di daerah Semarang.
Sambil menikmati teeh hangat, kami berdiskusi mancing bersama Pudjo Atmaji. Saya mengenal Pudjo Atmaji sejak dirinya masih muda. Pudjo Atmaji adalah angler senior yang sudah malang melintang mancing di tanah air. Dulu ia bersama kawan-kawan FORMASI (Federasi Olahraga Mancing Seluruh Indonesia) sering mengikuti turnamen dan mancing big game fishing. Dedikasi sebagai angler yang peduli kelestarian dan hobinya terhadap memancing tetap dilanjutkan hingga kini. Diskusi mengenai keberadaan habitat ikan di pagi mengalir tanpa terasa sambil menunggu tim lainnya.

casting di derasnya sungai

casting di derasnya sungai

Tak lama kemudian satu persatu kawan-kawan kami datang ke rumah Pudjo Atmaji, pertama tim Maguro Jawa Timur, lalu tim Maguro Jakarta, dan Tim Sejati. Setelah lengkap dan sarapan pagi kami pun meluncur ke sebuah pegunungan di kecamatan Boja Semarang. Empat mobil berjalan menjelajah hutan dan kebun karet dan jati. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai di desa Banyuringin dan mobil kami parkir di depan sekolahan.
“Kita akan masuk ke hutan karet yang jalannya terjal naik turun. Jadi hanya naik mobil 4x4 saja,” kata Pudjo Atmaji. Kami pun segera naik di bak mobil Pudjo Atmaji menuju ke spot sungai rimba. Benar saja mobil yang kami tumpangi menembus terjalnya hutan dan curamnya jurang. Wow ini baru kereen..!

Saya merlis ikan hampala yang dipancing Mas Nur

Saya merlis ikan hampala yang dipancing Mas Nur

Perjuangan kami pun akhirnya berhenti di sebuah sungai rimba. Sungguh batin kami merasa sejuk segar ketika kami tiba dan melihat air sungai yang mengalir jernih. Bebatuan sungai yang berada di sungai menambah indahnya lukisan alam ciptaan Tuhan. Terima kasih Tuhan kami semua masih kau beri waktu untuk menikmati indahnya alam ciptaanMu, itulah doa yang saya panjatkan ketika kami kaki kami menyentuh air sungai nan jernih itu.
Bebatuan menjadi tempat favorite untuk casting. Kawan-kawan kami terus memainkan lurenya fasih agar mendapat sambaran ikan yang diinginkannya.

Nur Khalid dengan hampala yang di dapat

Nur Khalid dengan hampala yang di dapat

Satu jam casting namun tidak ada sambaran sama sekali, saya dan Nur Khalid memisahkan diri untuk mencari spot lain. Nur Khalid mengganti minnownya dengan soft lure lalu mulai casting di antara bebatuan. Upayanya membuahkan hasil seekor hampala berhasil landed. Ia pun tersenyum riang dan saya pun juga senang karena saya mendapat foto ikan hampala dalam trip ini. Bagi saya foto sangat penting untuk menunjang cerita yang akan kami buat. Yess saya strike foto hampala, mantaaap itulah teriak saya ketika Nur Khalid mendapat ikan. Kemudian saya meminjam ikan hampala milik Nur Khalid dan ia pun mempersilahkan saya untuk mengelus-elus ikan dan merilisnya. “Beranak pinaklah kau hampala,” kata senang meihat ikan itu berenang menyelinap di balik batu. Luar biasa ini baru mantaaap. Oh rupanya ikan yang saya rilis itu dikira oleh kawan-kawan hasil saya mancing padahal itu hasil mancing Nur Khalid, mereka baru tahu setelah saya ceritakan bila saya hanya merilisnya saja. Spontan merekapu meledek saya dengan istilah “ikan ojekan” yaitu ikan bukan hasil mancing sendiri. Tidak masalah bagi saya karena yang penting saya mendapat foto-foto mancing sebagai pelengkap cerita. Dan kamipun tertawa riang meskipun ledekan itu meluncur dalam trip ini hahaha.

Sungai Boja masih banyak ikan hampala

Sungai Boja masih banyak ikan hampala

Hampala yang di dapat Nur Khalid mengakhiri spot pertama dan kami kembali ke desa Banyuringin untuk makan siang. Di depan rumah pos sekolah kami makan bersama dengan sajian sayur ndeso, tempe, sambel serta kerupuk. Tanpa malu-malu semua langsung menyerbu makanan yang di sediakan tukang warung depan sekolahan.

Achmadi tertawa girang mendapat hampili harga diri tak boncos

Achmadi tertawa girang mendapat hampili harga diri tak boncos

Usai makan siang kami melanjutkan memancing di spot kedua. Jarak spot kedua lebih dekat dengan desa meski demikian untuk menuju ke spot tersebut bukan perkara yang gampang karena harus menembus hutan karet ditambah jalan kaki menuju ke sungai.
Geografis Semarang terdiri dari kota bawah yang dekat pesisir pantai utara dan kota atas yang terdiri dari pegunungan. Kami menyusuri pegunungan ternyata terdapat sungai yang mengalir jernih. Jernihnya sungai dengan alam pedesan tentunya menambah sejuk dan segar trip ini. Gemericik air yang mengalir diantara bebatuan dan di bawah terdapat ikan-ikan hampala hilir mudik membuat kami semua senang berada di tepian sungai.

Hampala kecil membuat happy Fery Nugroho

Hampala kecil membuat happy Fery Nugroho

Di keheningan sungai itu tiba-tiba Fery Nugroho berteriak girang lantaran dirinya mendapat ikan hampala. Ia Nampak bahagia lantaran mendapat ikan hampala kecil dan terus meledek kawan-kawannya. “Om nanti di BM diulas bagaimana cara mancing hampala? Bagaimana cara retrivenya. Biar mereka semua baca, dan dapat hampala seperti saya, hahaha,” kata Fery Nugroho meledek kami semua yang tidak dapat ikan hampala.
Sementara di bawah saya Achmadi tersenyum girang lantaran lure kecil disambar seekor hampala kecil. Ia pun tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat hampala yang di dapat sangat kecil. “Ini bukan ikan hampala tetapi ikan hampili hahaha…, meski kecil ikan hampili kami juluki ikan hampili harga diri, karena yang lain tidak dapat ikan hahaha,” kata Achmadi tertawa riang.

Jalan kaki menyusuri lebatnya hutan karet

Jalan kaki menyusuri lebatnya hutan karet

Petualangan menjelajah sungai rimba di daerah desa Kayu Ringin, kecamatan Boja Kabupaten Kendal – Semarang kami bukan hanya strike ikan semata namun lebih dari itu. Kami strike keindahan alam ciptaan Tuhan dan kami juga strike keakraban pertemanan. Meminjam slogan maguro kali ini kami strike with confidence. Salam strike…!***Marcus W Nugroho

Comments

comments

Comments are closed.