Kembali Jelajah Waduk Koto Panjang Riau

double strike anak toman

Pak Achmadi dan Ibu Puji bersuka cita

Untuk kedua kalinya tim Berita Mancing mengadakan penjelajahan waduk Koto Panjang, Riau pada tanggal 23 – 28 Maret 2015. Tim penjelajah terdiri dari Achmadi, Pujiastuti, Usnisal Danim, Robby, Mayjend Mar Chaidier Patonory, Heru Desanto, Alex Halim, R Han han dan Marcus Berita Mancing. Penjelajahan waduk Koto Panjang ini di pandu fishing guide Fajar Wiriadi, Irwan, Om Pen, Ujang dan Ebyd Saputra.
Senin siang, 23 Maret 2015 tim kami tiba di bandara Riau lalu kami di sambut oleh Fajar Wiriadi dan Irwan yang memandu kami di Koto Panjang. Usai makan siang dari kota Pekan Baru kami menuju ke Waduk PLTA Koto Panjang yang kita tempuh dalam waktu 2,5 jam. Waduk Koto Panjang dibangun pada tahun 1994 untuk keperluan pembangkit listrik. Pembangunan bendungan hulu sungai-sungai itu menenggelamkan hutan Taman Nasional Bukit Tiga Belas dan bukit Seligi yang berada di dua propinsi yaitu propinsi Riau dan Sumtera Barat. Jam 3 sore tim kami sudah sampai di salah satu pondok di tengah pulau waduk milik keluarga Pak Yunus. Kemudian sebagaian ada yang istirahat, ada yang setting piranti mancing.

Pak Chaidier berhasil mendapat toman

Mayjend Mar Chaidier Patonory senang ketika mendapat toman

Hari Selasa 24 Maret 2015, cuaca di Waduk PLTA Koto Panjang mendung dan udara dingin namun pagi itu semangat tidaklah dingin, justru semangat kita memanas. Usai makan pagi tim terbagi menjadi 4 boat. Boat 1 dengan pancinger Mayjend Mar Chaidier Patonnory, Usnisal Danim, Fajar Wiriadi dan Ebyt. Boat 2 Achmadi, Pujiastuti, Marcus Berita Mancing dan Om pen. Boat 3 Heru Desanto, Alex Halim dan Ujang. Boat 4 ada Han han, Sulaiman, Irwan.
Pada hari pertama kami menjelajah spot sisi barat daya dari base camp. Tim boat 1 dan tim boat 2 menyusuri spot yang banyak ikan induk toman membawa anak, istilah lokalnya mancing casting beongan (sebutan untuk anak toman). Jarak spot dari base camp hanya 20 menit saja. Pagi itu kami di suguhi pemandangan yang luar biasa yaitu ada banyak sekali anak-anak toman. Di tengah anak toman terlihat ikan-ikan sebarau (hampala) mengejar-ngejar anak toman. Perburuan sebarau terhadap anak toman menjadi pemandangan yang tersendiri yang menyenangkan.
Kami pun juga memburu toman diantara beoang. Saling memburu satu dengan yang lain itulah ciri khas alam liar. Kami berburu dengan penuh semangat dengan terus casting. Gempuran lure kami terus membelah schooling fish anak-anak toman. Sampai akhirnya Pak Ahmadi berhasil mendapat strike toman kecil dan tertawa riang. “Hahahaa… yang diincar mamaknya ee yang nyambar anaknya. Rilis,” kata Pak Achmadi senang. Saya pun kebagian mendapat beongan juga. Beongan itu terus menerus muncul dan menyambar lure kami. Demikian juga tim boat 2, Pak Chaidier Patonnory dan Usnisal Danim terus menerus strike ikan toman. Suasana banyaknya strike membuat Pak Jendral Chaidier tertawa riang. “Dapat 7 strike di spot ini, asik banget,” kata Pak Jendral tertawa riang.

Usnisal dan R Han han gembira setelah mendapat ikan sebarau dan ikan lampam

Usai casting di spot beongan sisi barat daya, lalu kami menjelajah casting di spot Arau Besar. Spot ini terdapat sungai rimba yang mengalir masuk ke waduk. Adanya sungai ini menjadi tempat berkembangnya ikan dan tumbuh kembangnya ikan kecil. Banyaknya ikan kecil ternyata menjadi tempat yang nyaman untuk toman-toman monster. Pada trip sebelumnya di spot Arau Besar kami sempat duel maut sebanyak tiga kali dan naik satu toman monster. Kali ini kami mencoba mencari keberuntungan untuk casting di Arau Besar. Kami terus casting menyisir dengan rajin. Tanpa lelah kami terus mendorder spot dengan tehnik blind cast agar toman menyambar.
Usaha kami mendapat sambutan toman. Umpan spinner milik Pak Achmadi tiba-tiba dihajar toman dan tess…. Kami semua semakin terkejut ternyata yang putus adalah lider sling Kevlar. “Gila Kevlar sebesar ini rontok, gak kebayang ketajaman dan besarnya ikan yang menyambar. Selama saya mancing di sini belum pernah terjadi putus di lider kevlar,” kata Om Pen pemandu kami yang memegang rekor memancing toman sepanjang 90 cm.
Casting sampai jam 12 siang namun kami tidak menambah perolehn ikan, kami pun memutuskan untuk makan siang bersama dengan tim lain. Kami semua kumpul di pinggir sungai membuka rangsum untuk makan dan saling berbagi cerita ekplore dimasing-masing di waduk Koto Panjang. Usai makan siang kami pun kembali memancing dengan tehnik blind cast dan casting tenggakan.

ibu Puji  mendapat toman

ibu Puji mendapat toman

Mancing blind cast adalah menyusuri tepi waduk dengan terus menerus uncal. Upaya kami memancing dengan terus menerus namun sayangnya tidak satu pun ikan yang mencontek lure kami.
Kini saatnya kami memburu toman dengan tehnik tenggakan. Kami berdiam di tengah waduk menunggu toman mengambil udara. Saat toman menenggak di permukaan itulah kami harus melempar lure tepat di tenggakan. Tidaklah mudah memancing tehnik ini. Pancinger harus terus bersiaga dan di tuntut memiliki lontaran yang akurat tepat di tenggakan. Yang menjadi kendala adalah tatkala kita siap di muka namun tiba-tiba toman menenggak di samping. Hal inilah yang menyebabkan lemparan tidak akurat . Upaya mancing tenggakan sampai menjelang sore tak satu pun yang kami dapat dan kami pun kembali ke base camp Pulau tengah.
Pada hari pertama ini kami di boat dua mendapat 3 toman, boat 1 mendapat 11 toman dan boat 4 mendapat 3 toman. Total yang kami dapat 17 toman, sayangnya tidak ada mama toman yang berhasil kami dapatkan. Usai mandi kami makan malam dengan menu daging nampu (kancil) hasil berburu pak Yunus pemilik base. Malam makin larut kami pun harus tidur untuk melepaskan lelah untuk menghadapi perburuan toman di hari kedua.
Rabu 24 maret sinar mentari terbit terhalang mendung sehingga sinarnya cuaca tidaklah terlalu terik. Pada hari rabu adalah hari kedua kami melakukan ekspedisi. Spot di hari kedua ini kami tidak lagi terfokus untuk mancing casting tenggakan. Sementara dua tim konsentrasi mancing secara dasaran. Sepanjang pagi hingga siang hasil tidak terlalu bagus. Sampai tengah hari kami semua tidak mendapat ikan sama sekali. Kamipun akhirnya makan bersama di pinggir hutan dan bercerita tentang mancing setengah hari tanpa hasil alias boncos hahaha. Usai makan Pak alex dan supri memancing dasar dari boat yang ditambat. “strike,” teriak Supri kegirangan. Hal ini kejadian strike sampai 3 kali sehingga yang lain pun ikut-ikutan mancing dasaran dari tepi secara land base.
Melihat Supri strike, nampaknya semua panas dan langsung para pancinger masuk ke masing-masing boat lalu menuju ke spot untuk memancing. Sayang cuaca mendung berat sehingga dua kapal memutuskan untuk kembali ke base camp. Tim boat 1 yaitu Pak Chaidier, Usnisal, Fajar dan tim boat 2 terdiri Pak Achmadi, Pujiastuti, Saya dan Om pen tetap bertahan di tepi danau rimba. Hujan deras tiba-tiba turun dan kami hanya pasrah diguyur hujan karena memang boat kami tanpa atap. Dua jam lebih kami diguyur hujan dan kami tidak berani menembus hujan menuju ke tempat lain. Usai hujan kami menuju ke tengah danau untuk mancing tenggakan namun sayang tidak ada hasil. Hanya dua kali strike dengan kejadian kail bengkang. Kami harus balik ke base camp tanpa hasil.

Foto bersama sebelum eksplore koto Panjang

Foto bersama sebelum eksplore koto Panjang

Malam hujan lebat hingga pagi hari kamis 25 Maret 2015 memasuki hari ketiga atau hari terakhir eksplore ke koto panjang. Pagi itu kami semua pesimis tidak bisa memancig karena terus mengguyur. Baru sekitar jam 8 hujan makin kecil dan gerimis saja. Sambil menunggu hujn reda Pak Han hand dan Pak Usnisal iseng mancing di tepi pulau menggunakan boat. Upaya mereka cukup berhasil yaitu mendapat ikan lampam dan ikan hampala. Ini jelas surprise yang luar biasa sebab cuaca tak mendukung dan menurut schedule kami hanya mancing sampai jam 12 siang karena kami akan kembali ke pekan baru.
Sisa waktu yang ada kita manfaatkan bersama. Tiga kapal sepakat mancing dasar dan tim saya yang casting sendirian. Tim saya berkali-kali disambar ikan namun tidak berhasil kami menangkan. Siang jam 12 siang kami menyamperin tiga boat ternyata mereka panen toman, memang tidak besar namun kawan-kawan kami cukuplah happy.
Tiga hari terlalu cepat untuk menjelajah Koto Panjang. Meski cepatnya waktu, mau tidak mau harus kami akhiri dengan hasil mendapat banyak toman meski tanpa babon toman. Next time pasti datang kembali ke waduk PLTA Koto Panjang.***

Comments

comments

Comments are closed.