Mengenang Perburuan ikan Ihan Mahseer di Hulu Sungai Silang Bakara, danau Toba


 
Pertengahan tahun lalu Ibu Mertua saya, inang boru manulang aka opung Wilson  yang tinggal di desa Bakara Danau Toba, meninggal dunia di usian 73 tahun.  Sanak saudara yang menyebar di seluruh Indonesia kembali ke kampung halaman desa Bakara untuk mengadakan pesta adat besar sari matua.

Usai pesta adat, saya teringat bagaimana kisah berburu ikan mahseer bersama abang ipar lae D  Lumban Gaol. laeku ini yang memberitahu soal seluk beluk ikan di sekitar danau toba dan lokasi spotnya.


Lalu saya mencoba mencocok nama-nama ikan di toba dengan data base ikan yang saya punya. Saya menunjukkan  gambar dan laeku membenarkan bahwa banyak ikan yang saya maksud. Lalu saya menunjukan foto ikan mahseer, ternyata ikan ini banyak mengetahuinya. Orang Batak menyebut ikan ini dengan nama ikan ihan. Sebenarnya nama ilmiahnya adalah Tor tombroides dengan Ordo`nya Cypriniformes (carps), termasuk dalam Klas Actinopterygii. Secara umum ikan ini memiliki nama Mahseer, yang tersohor di berbagai manca negara. Ikan ihan juga digunakan untuk sebuatan ikan hampala, mereka hanya tahu satu nama untuk dua ikan yaitu mahseer dan hampala.

Air terjun si tio-tio dibawahnya banyak ihan

Awal kisah petualangan sensasi mancing ikan Tor tombroides ini berawal kepulangan saya bersama keluarga ke desa Bakara di Tapanuli Utara, Sumatra Utara di tahun lalu. Desa Bakara terletak di pesisir danau Toba. Desa tersebut dibelah sungai Silang yang bermuara ke danau Toba.

Meskipun Desa Bakara itu kecil ternyata desa itu penuh dengan sejarah perjuangan orang-orang Batak. Pasalnya desa itu merupakan asal-muasal Sisingamangaraja pahlawan asal Sumatra Utara yang menentang penjajahan Belanda.

Dari pinggiran desa Bakara itu, kita bisa memandangi keindahan Danau Toba. Bila Anda seorang pancinger hasrat dan keinginan mancing akan terus bergelora ketika melihat deburan ombak di sepanjang tepian Danau Toba.


Saya pun mengalami hal demikian. Untuk menyalurkan hasrat yang menggebu-gebu itu akhirnya saya mulai mancing dari pinggiran danau hingga menyelusuri sungai. Ikan yang kami dapat pun ikan-ikan air tawar yang berukuran besar yang tidak pernah saya jumpai di Tanah Jawa.

Penulis Marcus saat di desa Bakara Danau Toba
Hana dan Lukas ikut menikmati keindahan danau toba


Kisah mancing ikan  mahseer berawal dari informasi D Lumban Gaol yang merupakan abang ipar saya, bahwa di daerah Bakara itu terdapat ikan yang sangat mahal harganya dan susah dipancing. “Lae, dulu saya sering dapat ikan ihan di hulu Sungai Silang ini. Ikan sangat enak dan mahal sayangnya ikan ihan ini susah ditangkap maupun dipancing”, tutur  Lumban Gaol.

istri saya sedang mengikuti pesta adat sari matua


Mendapat informasi tentang ikan ihan, justru membuat saya semakin penasaran. Seperti apa sih ikan ihan itu ? Apa memang benar-benar tidak bisa dipancing ? Dengan penuh rasa penasaran akhirnya saya bersama abang ipar pun sepakat untuk memancing ikan ihan di hulu Sungai Silang desa Bakara. Setelah melewati petualangan yang menegangkan akhirnya saya mendapat ikan ihan yang bernama umum adalah mahseer atau ilmiahnya Tor tombroides.

ini adalah hampala nama toba ihan
ini mahseer si raja sungai gunung. Orang batak menamai ikan ihan sama dg utk hampala


Si Raja Sungai Gunung
Bila di tengah hutan belantara harimau menjadi raja rimba. Demikian halnya dengan ikan  mahseer s yang berada di sungai. Kalau boleh saya sebut ikan  mahseer merupakan rajanya sungai, sebab ikan tidak hanya liarnya namun juga sangat lincah baik dalam berenang maupun memangsa umpannya.
Sebenarnya sukar bagi saya untuk menulis artikel ikan mahseer  ini tanpa disertai emosi. Karena kita bukannya memperbincangkan tentang ikan yang biasa, tetapi bercerita tentang ikan air tawar yang paling sukar untuk dipancing. Dan memang nyata betul informasi abang ipar saya itu, bahwa ikan ini sulit dipancing maka di Tanah Batak harganya tinggi sekali di antara ikan tawar yang ada.

Seandainya kita tidak memiliki nyali yang ciut saat mancing ikan mahsserr maka sudah merupakan kemenangan. Sebab habitat ikan ini memang berada di lokasi alam bebas terutama tempat yang sukar dijamah manusia atau menyeramkan. Ketika saya menulusuri hulu sungai Silang memang luar biasa seramnya. Sungai yang deras dengan air terjun dengan dengan bebatuan yang besar-besar. Suara gemuruh air sungai benar-benar merupakan perang mental tersendiri. Bila Anda bisa menempuh dan mendapatkan “istananya” ikan ini sungguh suatu hal yang luar biasa.

Perjalanan ke hulu sungai Silang atau berkunjung ke “istana” ikan mahseer memerlukan perjuangan mental. Barangkali bagi Anda yang pernah nonton film Anaconda, lokasinya lebih seram dari film itu. Untuk mendapat tepian sungai saya harus menembus ilalang yang tingginya 1-2 m. Setelah sampai di tepian batu-batuan terjal dan tajam sepertinya tidak bersahabat. Keberhasilan melalui rintangan itu merupakan kemenangan tersendiri, meskipun belum mendapat ikan.

Baru setelah sampai di hulu, pancingan segera saya keluarkan. Menurut informasi dari abang ipar saya (D Lumban Gaul), bahwa ikan mahseerkecil gemar memakan buah-buahan hutan seperti buah ara, jambu air, neram dan perah. Untuk itu sewaktu dalam perjalanan ke hulu, ia mengumpulkan buah-buahan hutan sebagai umpan. Ikan yang agak besar menggemari berbagai jenis serangga seperti belalang. Sedangkan  mahseer yang besar biasanya memburu ikan-ikan kecil dan hewan krustacea. Untuk itu tas ransel saya pun ada beberapa belalang yang saya bawa dari rumah.

Dengan susah payah dan perjuangan menaklukan alam akhirnya saya sampai di hulu sungai. Saya dan abang ipar menarik nafas lega sembari menikmati air terjun di tengah-tengah hutan.

Selanjutnya saya mengeluarkan piranti mancing. Ada satu masalah lagi yang harus saya hadapi yaitu bagaimana saya akan melemparkan umpan kepada ikan ini di dalam sungai yang penuh dengan kayu-kayu tumbang dan batu-batu tajam yang pasti kenur pancing yang kita gunakan mudah putus bila tergesek.

Selanjutnya saya terus berusaha menempatkan umpan pancingan di antara pepohonan. Kami menunggu ikan memakan umpan dengan penuh harap dan kecemasan. Dan ketika kenur mulai bergerak-gerak, jantung ini ikut berdetak kencang. Tiba-tiba sreett…sreett kenur pancing menegang . Ternyata ikan Tor tombroides ini mulai menyantap umpan. Wow…., sungguh luar biasa. Ikan ini membawa umpan saya dan ia melesat bagaikan sebuah peluru dan membawa lari umpan di balik bebatuan serta pohon-pohon rubuh.

Bagaimana bila hal ini Anda mengalami hal sama seperti saya ?? Andaikan Anda bisa mengatasi hal ini bukan berarti masalah langsung selesai. Anda akan berhadapan dengan masalah berikutnya yaitu makhluk liar ini pertama-tama akan menghunjam ke bawah bagaikan terpedo membawa lari ke tunggul-tunggul kayu berhamburan. Kejadian ini membuat pancinger pusing tujuh keliling.

Seandainya kenur Anda masih kuat menahan amukan  mahseer  tersebut, ikan ini tidak menyerah begitu saja. Dengan segenap tenaga atau istilah sampai titik darah penghabisan ikan  mahseer  berusaha melepaskan diri biarpun sudah sampai ke pinggir dan Anda tinggal menyeroknya.

Baru setelah Anda berhasil mendaratkan Anda baru merasa puas. Barangkali Anda akan terbengong-bengong melihat ikan ini sembari memegangi ikan dengan tangan dan Anda pasti berdecak kagum berkata. Atau barangkali setelah Anda mendapatkan ikan ini pasti akan bersorak dengan penuh kegembiraan “ Aku Bisa…..!!!! Aku menang….!!! Aku Berhasil…!!!!”. Hal itulah yang pertama saya teriakan setelah mendapat ikan mahseer pertama.

anak2 & ponakan mandi di mata air marjulak Bakara di sawah keluarga kami


Kalau boleh saya umpamakan pertarungan hebat dengan “si raja sungai gunung” ini bagaikan sebuah legenda. Dimana kenikmatan yang didapat oleh pancinger tidak mudah terhapus begitu saja.

Ada kisah menarik yang saya ingin ceritakan mengenai pertarungan dengan ikan ini. Seekor ikan mahseer yang besar menyambar umpan lalu melejit bagaikan peluru. Dengan lincah sekali, ikan ini terus berenang cepat menuju ke bagian hilir sungai sejauh 50m. Kemudian tiba-tiba ia berbalik arah dengan kecepatan tinggi dan menuju ke bagian hulu. Tentu saja hal ini membuat saya kelabakan serta penuh dengan kecemasan.

Ikan mahseer s tidak berhenti sampai di situ. Ia masuk membawa umpan ke dalam tempat air yang sangat deras Saya benar-benar dibuat KO. Setengah jam kemudian kenur kelas 30lbs pun putus. Sebelum putus saya berusaha menahan, namun ketika putus langsung jatuh tersungkur, sampai saya benar-benar bagaikan mabuk laut. Akibat saya telah kalah bertarung dengan ikan ini, keadaan saya pun bagaikan dipukul petinju Mike Tyson. Pusing dan mual dan akhirnya saya muntah-muntah. Kombinasi sinar matahari yang terik dan pertarungan yang sengit menyebabkan saya begitu tersiksa.

Ikan mahseer  ternyata telah menguji pancinger, apakah benar-benar mahir memancing hingga ke tetes terakhir, bukan saja dari segi teknik dan ketahanan peralatan yang digunakan, tetapi juga saat mencari mencari lokasi ikan (istana) saat memburunya. Barangkali ada pancinger yang ingin mencoba mencari “istana” si raja sungai gunung ini atau ada pancinger yang penasaran, ada baiknya akan saya uraikan dalam bentuk tulisan lain berikutnya.***Mrk – Marcus Widhi Nugroho.

Comments

comments

Comments are closed.