Menikmati Strike demi Strike di Pondok Bali Pamanukan

Berita Mancing. Indonesia Fishing Information.

Arus mati bukan berarti tidak bisa memancing. Seribu jurus dikeluarkan oleh Pak Ugi sehingga trip mancing ke Pondok Bali Pamanukan mendapat hasil yang tidak mengecewakan. Emang tidak ada kata mati untuk Pak Ugi, sehingga kami harus angkat topi buat pancinger satu ini. Kisah mancing ini terjadi pada tanggal 4 Mei 2012 ketika Pak Ugi dan Bang awal mengajak Berita Mancing untuk menikmati strike demi strike ikan-ikan di sekitar rig pengeboran minyak di Pamanukan. Rabu malam usai pertemuan kawan-kawan Terminal Fishing Community di Toko TP, Kami bertiga berkemas-kemas untuk melakukan perjalanan dari Jakarta menuju ke Pondok Bali – Pamanukan. Kurang lebih pukul 24.00 kami meninggalkan kota Jakarta menuju ke arah tol Cikampek, Subang dan akhirnya masuk ke Pamanukan. Sampai ditengah kota Pamanukan mobil diarahkan ke daerah pantai Pondok Bali. Pantai Pondok Bali adalah daerah perkampungan nelayan yang berada muara sungai di daerah Pamanukan.

Menjelang subuh, kami sudah sampai di kampung Pondok Bali Pamanukan dan mobil langsung kami parkir di halaman rumah Pak Warta. Dengan senyum penuh persahabatan Pak Warta menyambut kami serta memberikan segelas teh manis untuk menghangatkan badan. Kemudian Pak Warta dibantu dua abk memindahkan semua barang dari mobil dan alat pancing ke perahu. “Pak semua sudah siap, mari kita berangkat. Jarak tempuh ke rig hanya 1 jam 30 menit,” kata Pak Warta yang merupakan kapten perahu tek tek yang akan kami pergunakan untuk mancing di sekitar rig pengeboran minyak. Kami pun segera menuju ke perahu Pak Warta dan memulai petualangan mancing di sekitar rig pengeboran di Pamanukan. Waktu di dalam perjalanan menuju spot rig kami pergunakan untuk istirahat tidur untuk memulihkan stamina tubuh setelah menempuh perjalanan Jakarta pamanukan sekitar 4 jam. Jam 5 lebih dikit kapal sudah sampai di rig pengeboran dan kami pun mulai aksi memancing. Udang hidup merupakan umpan yang kami pergunakan untuk mancing pagi itu. Pak Ugi dan Bang awal Nampak semangat sekali ketika sampai di spot.

Rangkaian mancing dasar dengan kelas kenur kecil 10 lbs kami pergunakan waktu itu. Pak Ugi dan Bang Awal segera melempar umpan di sekitar rig pengeboran. Selanjutanya umpan udang milik saya pun juga saya lempar mendekati pipa besi besar di rig pengeboran. Pagi matahari belum terbit dan kami hanya diterangi obor dari rig dan listrik di pengeboran. Tak lama fandi abk kapal umpannya di sambar ikan. “Strike…!!” katanya tersenyum simpul. Dengan cekatan fandi mulai menggiring ikan hingga mendekati kapal, dan akhirnya seekor ikan jenaha berhasil di naikan ke perahu sebagai ikan pertama yang kami dapat. “Lumayan..,” katanya tersenyum riang. Di remang pagi itu, kami masih mengharapkan agar umpan udang yang kami pasang disambar ikan. Dengan memandangan pengeboran. Sambil menunggu strike, saya iseng tanya pada Pak Warta sejak kapan rig ini di bangun. “Kalo enggak salah rig ini dibangun sejak tahun 1976 oleh pertamina. Konon ceritanya rig pengeboran minyak ini sebagai salah satu sumur minyak lepas pantai yang dalam pengawasan minyak pertamina di indramayu. Sebenarnya oleh pertamina dilarang mancing di sekitar rig. Namun lama-kelamaan pengawasan kendor dan kita diperbolehkan mancing di sekitar rig pengeboran. Sebenarnya yang ditakuti pihak Pertamina adalah perihal pencurian pipa oleh orang-orang yang berniat jahat. Kenyataan dari rig ini ada sebagian besi tahan karat di curi orang. Akibatnya pihak pertamina melarang mancing sekitar rig. Namun merekan sekarang tahu kalo nelayan pancing justru yang menjaga rig, maka kami bisa mancing di sana,” cerita Pak Warta panjang lebar, hingga umpan saya habis tak terasa dimakan ikan.

Sambil cerita ngalor ngidul tentang rig, tiba-tiba joran milik Pak Ugi melengkung keras sekali. “strike….!!,” katanya sambil tersenyum riang. Selanjutnya ia mulai mengendalikan pertarungan. Ikan di bawah sana nampaknya memutar terus menerus. Pak Ugi mengiringnya hingga sampai ke permukaan. “Kuwe rambe…!,” katanya. Seekor kuwe rambe pun akhirnya tak perdaya melawan pertarungan dan menyerah menjadi pengisi cool box kami. Umpan saya belum mendapat sambaran ikan padahal umpan milik dua abk dan Pak Ugi terus menerus di makan ikan. Sambil menunggu strike, kami disuguhi pemandangan yang sangat indah oleh Sang Maha Kuasa dengan munculnya matahari diufuk timur. Saat menikmati semburat sinar mentari tiba-tiba joran milik Bang Awal melengkung. Dengan senyum khas, Bang Awal menggulung reelnya secara pelahan. Pelan namun pasti akhirnya Bang Awal berhasil mendapatkan ikan jenaha dengan berat yang cukup lumayan. Dengan bangga Bang Awal menunjukan ikan jenahanya saat kami mengabadikannya. Pagi itu sebenarnya ikan masih banyak yang makanin, sayangnya kami harus pindah karena ada kapal Pertamina yang mau merapat ke rig. Melihat hal ini Pak Warta mengajak kami untuk pindah ke lokasi rig kedua. Di rig kedua memang tidak sebesar rig yang pertama. Sampai di rig kedua terlihat ada perahu nelayan jaring menambatkan tali panjang milik rig. Di rig kedua ini kami mancing dan lagi-lagi kami disambut oleh ikan ebek dan ikan-ikan dasar. Pak Ugi kembali menarik ikan kuwe rambe dan Bang awal tetap menarik ikan dasaran. Saat ikan rame makan tiba-tiba kapal nelayan disamping kami menyalakan mesin serta melaju disamping kapal kami sambil menebar jala secara melingkar. Alamak…, yang pastii ikan akan kabur. Bener saja sekali tarik jarring, kami melihat banyak ikan di dapat ada ikan tenggiri, barakuda, kuwe rambe dan banyak lagi. Melihat kelakuan nelayan jarring samping kami tidak berdaya dibuatnya.

Kini nelayan jaring pergi, namun halangan mancing bukan tiada lagi. Kapal pertamina justru merapat di dekat rig. Alamak mau pindah kemana lagi pikir saya dalam hati. “pak kita pindah spot ke air mendidih, ga enak ada kapal pertamina,” kata pak Warta. Oke dan satu jam kemudian kami pindah ke spot air mendidih. Air mendidih adalah bekas pengeboran pipa yang bocor sehingga gas dalam perut bumi keluar terus menerus, seperti semburan lumpur lapindo. Di sekitar air mendidih ternyata di huni ikan-ikan karang. Sayangnya pada waktu itu arus mati. Meski arus mati namun pag ugi sudah memperhitungkan dan mancing dengan menggunakan pancing tegek. Selain mengganti pancing tegek, Pak Ugi juga mengganti mata kail kecil untuk pancingannya. Upaya kini ternyata berhasil. Ikan baronang bolak balik terpancing membuat kami semua terkesima melihat keberhasilan trik yang dilakukan Pak ugi. Selanjutnya kapten mengajak pindah ke rig yang kedua. Kali ini kapten justru mengikatkan tali dekat dengan kapal pertamina. Di spot ini arus mati. Namun kembali pak Ugi menunjukan kelihaiannya dengan merubah strategi mancing dengan hook kecil dan tegek. Benar saja Pak Ugi umpannya terus menerus dimakan ikan. Sementara itu Bang Awalumpanya juga dimakan ikan kuwe bangali. Umpan saya juga disambar ikan jenaha. Lantaran mancing kami bolak balik narik ikan pegawai pertamina di atas kapal menyaksikan bagaimana serunya kami mendapat ikan. Bagaikan supporter sepak bola begitu pancingan kami tersambar ikan, para pegawai member support sambil berteriak “strike….!!! Tarik pak….!,” teriak mereka membuat hati kami berbahagia. Ya, jam satu siang kami harus berhenti mancing dan mengakhiri kebahagian bercanda tawa di Pamanukan dan jam 3 kami pulang.****Marcus Widhi Nugroho

Comments

comments

Comments are closed.