Takabonerate International Fishing Tournament : Menjelajahi Samudera Bersama Pancinger Muda


Satu minggu usai berpetualang dari menjelajahi Samudera Indonesia, kembali tim Alexander yang terdiri Sean Alexander (8 tahun), Michael, Andre, dan Budi Saputra mengajak kembali Berita Mancing (BM) untuk mengikuti Takabonerate International Fishing Tournament pada tanggal 19 – 20 November 2011. Turnamen tahunan yang diadakan oleh Pemda Kabupaten Selayar sejak 2009 hingga kini telah 3 kali berlangsung. Turnamen kali ini dikuiti oleh 25 tim dari berbagai daerah seperti Bali, Jakarta, Bandung, Kalimantan, Surabaya dan manca negara seperti Inggris.Bagi kami menjelajahi samudera dengan pancinger muda seperti Sean (8 tahun) merupakan pengalaman yang pertama. Nah bagaiman serunya mancing di event turnamen bersama sean Alexander akan kami bagikan menjadi berita utama.
Dengan semangat membara untuk berkompetisi dalam sebuah event turnamen International kami yang terdiri dari Sean Alexander, Michael, Andre, Budi dan BM pada tanggal 17 November 2011 sore meninggalkan Jakarta dan terbang menuju ke Makassar. Keesokan harinya tanggal 18 November 2011, kami harus terbang menggunakan pesawat kecil untuk menuju ke Kepulauan Selayar. Pesawat kecil jenis kassa merupakan satu-satunya transportasi udara yang kapasitasnya hanya untuk 20 orang saja. Untuk menuju ke Selayar ada dua cara transportasinya yaitu transportasi darat menggunakan mobil menuju ke desa Bulu Kumba kemudian menyebrang via kapal ferry dengan jarak tempuh sekitar 9 jam. Transportasi lain adalah menggunakan pesawat kecil yang ditempuh selama 1 jam. Tim kami memilih untuk mengikuti transportasi udara.
Pukul 09.00 wita, pesawat mendarat dengan selamat di Kepulauan Selayar. Hujan deras mengguyur kedatangan kami. Hujan harus kami tembus tanpa payung, dan kami langsung berlarian menuju ke pos bandara kecil di Pulau Selayar. Di Bandara sudah menungu panitia turnamen menjemput kami dan mengantar ke tengah ke penginapan kota Selayar. Setelah mandi dan istirahat kami pun berjalan keliling kota Selayar untuk mencari bekal perjalanan mancing ke Pulau Jenato. “Secara geografis Pulau Selayar terpisah dengan daratan Sulawesi atau berada di selatan Pulau Sulawesi. Potensi perikanan di Selayar sangat luar biasa. Tidak jauh dari kota Kami sering mendapat banyak ikan,” kata Batara Gau yang mengantar kami keliling menjelajahi sudut kota Selayar. Cerita soal ikan dan mancing yang diluncurkan oleh Pak Batara membuat kami optimis akan mendapat ikan-ikan besar.
Malam hari kami diundang makan malam di kantor Bupati bersama tim-tim lain. Di sinilah kami bertemu dengan banyak pancinger dari berbagai daerah di Indonesia. Bagaikan reunian kami saling bercerita petualangan mancing yang kami alami saat ini. Turnamen yang di buka langsung oleh wakil Bupati Selayar diikuti tim-tim dari berbagai daerah Indonesia. Usai makan malam Direktur Turnamen Bapak Irwan Riduan memberikan penjelasan soal aturan dan tata cara turnamen mancing.
Tanggal 19 November, pagi hari pukul 05.00 menunggu jemputan untuk menuju ke dermaga Ferry. Sambil menunggu mobil jemputan kami menyempatkan minum kopi di salah satu kedai sambil makan kue.Akhirnya pukul 07.00 kami sampai di dermaga Benteng Pantai Selayar, tempat kapal ferry yang mengantar kami ke Pulau Jenato.
Pukul 07.30 wita Kapal Ferry meninggalkan kota Selayar selanjutnya kami melakukan perjalanan menuju ke Pulau Jenato sebagai basis turnamen Takabonerate International Fishing Tournament. Detik demi detik, jam demi jam, dan setelah 5 jam kami tempuh dengan kapal Ferry cepat akhirnya pukul 14.00 wita barulah kami sampai di Pulau Jenato. Lantaran waktu kami datang air sedang surut sehingga kapal Ferry kami tumpangi tidak bisa merapat di dermaga dan buang sauh di tengah lautan. Semua penumpang dijemput dengan kapal joloro sejenis perahu kecil untuk menuju ke Pulau Jenato. Anehnya juru mudi kapal joloro menurunkan kami di pantai Timur Pulau Jenato yang seharusnya kami turun di pantai Barat sebagai basis turnamen. Meski pemandangan di pantai timur pantai sangat bersih dan putih dengan pohon kepala menambah keindahan pulau ini, ditengah hari yang panas itu kami tidak sanggup membawa peralatan mancing ke sisi daratan yang teduh. Tas dan barang kami tinggal di pantai dan kawan-kawan lain juga melakukan hal ini.

Rasa haus dalam sekejap menghinggapi semua peserta yang turun di pantai timur, sementara bekal minuman kami tinggal di pantai dan kami malas untuk mengambilnya karena jaraknya agak jauh dan udaranya sangat panas. Untungnya Pak Made Sujana dari Bali dan beberapa kawan Insane FC dari Makassar punya ide untuk memetik kelapa sebagai obat dahaga. Air kelapa bagaikan obat kuat, cespleng, menguatkan kami semua yang dilanda kehausan. Sambil menunggu kapal yang akan kami gunakan untuk turnamen kami pun rebahan di pantai dan di bawah pohon kepala.
Pukul 15.00 wita, kapal yang kami gunakan datang merapat ke pantai Timur Pulau Jenato. Beberapa pancinger termasuk kami masuk ke kapal masing-masing untuk memulai melakukan turnamen memancing. Setelah barang kami naikan ke atas kapal, Pak Michael menanyakan soal hot spot dan lampu kapal, mendapat pertanyaan itu si kapten kapal sepertinya kebingungan menjawabnya. “kapal kami tidak dilengkapi lampu dan kami tidak tahu lokasi untuk memancing sebab kapal ini hanya untuk mengantar orang menyebrang antar pulau,” kata kapten. “Waduh.., kalo begitu kami enggak jadi naik kapal ini, sebab kalo mau mancing malam tanpa lampu sangat bahaya, apa lagi kami bawa anak kecil, oke kita cari kapal lagi di pulau Tenajo,” kata Michael.
Akhirnya kami harus ganti kapal yang memiliki fasilitas agak lumayan yaitu adanya genset untuk lampu, namun kapal tidak memiliki fish finder dan GPS. Kami tahu bahwa mancing dasar pada malam hari tanpa menggunakan alat itu tentu saja sangat sulit untuk mendapat ikan, kendala inilah yang kami temui saat turnamen.
Jam 4 sore tim lain sudah meluncur ke berbagai lokasi mancing sementara kami baru loading barang dan pindah kapal. Setelah oke, kami pun mulai menyusun rencana mancing. Pulau Jenato adalah bagian dari jajaran Pulau di kawasan Takabonerate. Di daerah ini terdapat atol yang panjang dan konon atol merupakan atol terpanjang ketiga di dunia. Kondisi geografis di samping atol langsung drof off hingga ratusan meter sampai ribuan meter. Membaca kondisi geografis itu mulai pukul 4 sore hingga jam 6 sore kami memilih mancing trolling memburu tuna maupun marlin. Kami sempat melihat lumba-lumba dan tuna besar sayangnya enggak mau memakan umpan kami.
Malam hari kami mancing dasar tanpa bantuan alat elektronik semacam fish finder dan hal tentu saja sangat sult dan kami harus bolak balik pindah mencari taka (karang). Di salah satu lokasi Sean Alexander mendapat ikan kakap dan ikan kuwe dengan size kecil. Pagi hari kami mencoba keberuntungan mancing popping di sisi luar atol namun kami enggak mendapat ikan sama sekali lagi hingga akhir turnamen.
Saat panitia mengumumkan hasil turnamen Tim Sean Alexander berhasil menjadi juara Favorite. Meski hadiah ini bukan mendapat hadiah uang, namun kami bangga karena juara Favorite adalah tim yang banyak menarik perhatian tim lain atau masyarakat umum. Kehadiran Sean Alexander memang bak selebritis dan mengundang banyak orang menyapa dan mengajak Sean berbincang bincang. Bahkan saat kami makan di kedai kopi pulau Jenato, beberapa ibu-ibu terus memeluk Sean dan meminta untuk foto bersama. Semua kagum akan Sean yang masih muda namun sudah menjelajahi “pulau pulau terpencil di Indonesia” , bocah kecil usia 8 tahun ini selalu memberi warna dan semangat tim-tim lainnya yang rata diisi oleh pancinger muda atau tua. Bravo Sean.**bm

Comments

comments

Comments are closed.