Ekspedisi Ke Maluku Tenggara Memburu Sarang “Ikan Setan” Escolar


Pada tanggal 1 – 5 Oktober Berita Mancing bersama Dinasty Fishing Club Surabaya dan Mancing Mania Trans 7(MMT7) melakukan ekspedisi memburu sarang “ikan Setan” ikan escolar ke Maluku Tenggara. Ketua Dinasty FC, Pak Wanto sebagai lider ekspedisi mengajak putrannya Yova Utama, serta Kapten dari Makassar yaitu Herman dan Ricky. Sementara itu tim ekspedisi dari MMT7 dipimpin langsung oleh Dudit Widodo didampingi Denis dan Bram. Ekspedisi selama 4 hari menemukan banyak spot untuk mancing dasar dan popping dan tentu saja spot ikan-ikan escolar yang terkenal memiliki tenaga luar biasa saat terpancing.
Kisah ekspedisi mancing ini kami mulai dari pukul 16.00 waktu setempat, tatkala pesawat Lion Air mendarat di bandara Nanggur Maluku Tenggara. Pada saat itu juga kami bertemu dengan Pak Wanto dan Yova Utama. Sambil berjalan keluar menunggu barang dari bagasi, kami saling berbagi cerita. Saat kami sibuk mengemasi barang, tiba-tiba dua orang datang dan membantu kami dalam mengemasi barang. Mereka adalah Herman dan Ricky yang merupakan anggota tim ekspedisi dari Makasar yang datang lebih awal untuk mempersiapkan segala keperluan yang akan dilakukan di Maluku Tenggara ini. Pak Herman dan Pak Ricky yang datang lebih awal dengan mengemban tugas untuk menyiapkan logistik dan mencari kapal yang akan kita gunakan untuk ekspedisi mancing.
Sebelum kami meninggalkan kota Tual, malam itu kami sempat makan dan mencari bekal makanan untuk mancing malam. “Kita langsung mancing untuk menjajaki perairan Maluku Tenggara. Besok kita balik ke Tual untuk menjemput tim MMT7,” kata Pak Wanto mengatur semua rencana untuk hari ini. Kurang lebih pukul 8 malam kami semua sudah berada di salah satu perkampungan nelayan dan kami harus naik kapal yang lego jangkar di tengah. Dengan menggunakan boat kecil membelah gelapnya malam akhirnya kami sampai juga di atas kapal yang akan kami pergunakan untuk ekspedisi mancing.
Usai mengemasi barang dan berkenalan dengan kru lokal maka kapalpun meluncur menuju hotspot. Ditengah gelapnya malam, Pak Haji Zaelani pemilik kapal mengatakan kepada kami bahwa kita akan menuju ke sebuah meti yaitu karang dangkal yang katanya banyak dihuni ikan-ikan dasaran. “Waktu tempuh ke spot adalah antara 2 sampai 3 jam” kata Pak Haji Zaelani. Hem…, masih bisa istirahat untuk memulihkan tenaga kata saya dalam hati.
Tiga jam kemudian kami sampai di salah satu spot meti. Dalam fishfinder terlihat warna merah menyala pada kedalaman 60 – 150 meter. Topografi bawah laut terdapat tonjolan yang mungkin ini adalah karang. Sementara di atas warna merah terdapat tanda ikan-ikan. Kami segera mengeluarkan semua piranti mancing dasar dan jigging.
Meski untuk mancing dasar namun piranti mancing milik Pak Wanto tergolong heavy tackle. Reel merk ternama seperti accurate dengan PE 10 mengisi semua reelnya. “Semua piranti mancing yang saya siapkan adalah heavy tackle sebab kami akan mencari ikan-ikan ukuran monster, jadi semua piranti harus perfect dan kuat,” kata Pak Wanto.
Oke, setelah sampai di lokasi, kondisi fisik yang lelah setelah menempuh perjalanan panjang seolah-olah hilang dan sirna seketika, tatkala umpan kami turunkan. Semua diatas kapal tetap berharap sambaran mewarnai hari pertama ini. Benar saja malam itu kami mendapat sambutan dengan mendapat sentakan-sentakan ikan yang bertubi-tubi membuat kami semua bersemangat dan bahagia menaikkan ikan. “Lumayan untuk sebuah pemasanan,” kata saya. Ikan-ikan kakap merah dengan berat kurang lebih 8 – 10 kg terus menerus kami dapatkan. Yova, Ricky dan Pak Wanto harus bolak balik narik ikan-ikan kakap merah hingga pagi dan kapalpun harus kembali ke kampung nelayan di desa tual untuk menjemput tim mancing mania trans 7.
Memasuki hari kedua (02/03/2011, tim Mancing Mania Trans 7 tiba di lokasi jam 13 siang. Pak Dudit Widodo, Denis dan Bram segera mengeluarkan “senjata” untuk memulai melakukan ekspedisi. Kapten Herman, Pak Haji Zaelani pun mengeluarkan peta laut untuk mendiskusikan tujuan mancing. “Tujuan malam nanti kita tetap mancing di meti ya berada di luar Pulau K, di sini biasanya banyak ikan-ikan dasar,” ujar pak Haji Zaelani menunjuk salah satu titik di peta laut.
Sambil menunggu perjalanan hingga ke spot tujuan, pak Dudit, Pak Wanto, Pak Herman dan Pak Ricky menyiapkan semua piranti mancing yang akan dipergunakan mancing. Sambil menikmati kopi kami saling bercerita seputar mancing.
Menjelang sore hari kapal telah sampai di spot yang kita tuju. Beberapa kru telah bersiap-siap membuang sauh. Saat kapten kapal memberi aba-aba agar sauh dilempar, maka kru kapal pun mulai membuang sauh ke laut dan kini kapal berlabuh dengan benar. Dalam fishfinder terdapat informasi kedalaman air hingga 100 meter dengan struktur karang. Beberapa tanda ikan bermunculan di fishfinder.
Malam itu yang membuka perolehan pertama adalah Pak Wanto. “Strike…!” teriak Pak wanto menyentak jorannya. Dengan penuh keyakinan Pak Wanto mulai melakukan pertarungan dengan ikan. Dalam waktu singkat seekor kakap merah seberat kurang lebih 8 kg mengawali hasil pada malam itu. “Lumayan sebagai pembuka, mantaap,” kata Pak wanto senang.
Sambutan strike terus bertubi-tubi datang. Kini giliran Denis dari MMT7 umpan pancingannya di sambar ikan, “Strike…!” teriak Denis menghentak jorannya. Ia pun terus fight untuk memenangkan pertarungan dengan ikan. Dalam waktu kurang lebih 5 menit seekor ikan berhasil di naikan. “Hasilnya lumayan seekor yellowlip emperor. Mantaaap man,” teriak Denis sambil mencium ikan saat Bram mendukomentasikan dalam kamera MMT7.
Usai Denis mendapatkan ikan emperor, tim ekspedisi seolah-olah berada di gudang ikan-ikan dasar. Semua yang diatas kapal tidak henti mendapat sambaran ikan-ikan dasar seperti kakap merah jumbo. Malam itu kami semua merasa happy. Pak Dudit Widodo pun harus bolak balik menarik ikan dan memberikan komentar-komentar kepada para pancinger lain yang juga berhasil mendapat ikan. “Kita semua bagaikan mancing di kolam. Lempar ikan langsung di sambar, spot fantastik sebuah awal yang bagus,” komentar Dudit Widodo di spot pertama ini.
Meski ikan dasar yang kami peroleh termasuk jumbo dan banyak namun Pak Wanto merasa ada sesuatu yang kurang dan belum mencapai target ekspedisi. “Malam ini lumayan bagus meski target utama yaitu dogtooth tuna, ruby snapper serta ikan escolar belum kami dapat, Semoga besok ada kemajuan perolehan ikan” kata Pak Wanto mancing malam saat menjelang pagi hari.
Hari ketiga : Popping GT Dan Ijin Mancing
Menjelang pagi semua piranti untuk mancing dasar kami kumpulkan. Sambil menikmati kopi, pagi itu kapten Haji Zaelani dan pak Herman kembali membuka peta dan menunjukan bahwa di sekitar kepulaun K terdapat banyak pulau. Herman meminta pendapat kepada anggota ekspidisi mengenai rencana mancing pagi itu. “Saat pagi ketika arus surut lebih baik kita coba mancing popping di sekitar pulau. Jika tidak ada batu mandi atau meti kapal arahkan ditepian pulau itu lalu kita popping menyusuri pulau,” kata Dudit Widodo mengawali diskusi. Setelah sepakat kapalpun mengarah ke tanjungan Pulau K untuk memulai popping.
Kali ini saya mengeluarkan piranti mancing bawaan untuk saya test yaitu joran pioneer doghtooth dan reel cando. Pak Dudit Widodo dan Denis mengeset reel Daiwa dogfight piranti poppingnya untuk memburu GT yang berada di sekitar Pulau K.
Saat kapal berjalan lambat di tepi pulau, kami segera melemparkan popper di dinding karang. Gempuran demi gempuran popper terus kami lemparkan. Tiba-tiba dari bawah air nampak seekor ikan membuntuti popper dan byuuur..! “Strike…!” teriak saya menahan joran pioneer doghtooth.
Hap…! Haap…! Saya mulai fight. Reel Cando benar-benar kuat menahan beban, ikan Gt kami giring mendekati meski ikan terus ngamuk tiada henti. GT itu memutar hingga dibawah kapal dan tentu saja ini membuat saya harus berpindah tempat ke sisi kanan kapal. Dengan sekuat tenaga akhirnya saya bisa memenangkan pertarungan. Bak seorang striker yang mencetak gol ke kandang lawan, saat itu kami merayakan cacth celebration dengan saling tos. Mantaaap.
Usai mendapat seekor GT, acara berhenti lantaran kami didatangi dua orang nelayan warga Pulau K. Dua orang itu memaksa kami untuk singgah ke Pulau K untuk bersilaturahmi dengan warga Pulau K. Meski dengan berat hati kami mengikuti kemauan dua orang nelayan tersebut. Padahal pagi itu air lagi surut sehingga kans untuk popping dan mendapat ikan GT sangat besar. Kami juga tahu banyak ikan GT yang mengikuti poper kami saat popping, namun demi rasa tali persaudaraan antar warga maka niat memangku GT Mama kami urungkan. “Acara silaturahmi” ini diluar skenario kita. Tapi gak usah kuatir, kalo rejeki enggak kemana, tenang saja di sini banyak ikannya”kata Pak Wanto menghibur kami semua. Sebagian tim turun untuk ke desa nelayan sebagian tetap di atas kapal. Usai berkunjung ke desa itu, tim ekspedisi diperbolehkan memancing di sekitar pulau K.
Arloji menunjukan pukul 14.00. “Arus mati. Gak iso poping kayaknya, tapi kita coba dua tiga lemparan,” kata pak Wanto kepada kami. Saat arus mati memang tidak baik untuk mancing, namun kami enggak banyak pikir seperti prinsipnya Pak Dudit yang lempar terus siapa tahu keberuntungan meliputi kami. Tiga pancinger yaitu saya, Pak Dudit dan Denis kembali popping di sekitar pulau. Dua jam poping hanya menghasilkan satu kali strike namun ikan keburu otomatis release alias mocel hahaha.
Temukan Spot “Ikan Setan” Escolar
Waktu menuju sore hari dan kami harus mengakhiri popping dan berlanjut dengan planning kedua ekstrim bottom fishing. Kini kemudi kapal diambil alih oleh Herman. Kapten kapal asal Makassar ini mulai mengoperasikan fish findernya. Ia terus mengawasi struktur dasar laut dan kedalaman air. “Ini dia tempatnya,” kata Herman penuh keyakinan bahwa di dasar sana ada monsternya.
“Ini lokasi bagus banget. Kedalaman antara 250 meter sampai 300 meter setelah itu terdapat drop off hingga ribuan meter. Di daerah terjadi arus naik membawa plankton jadi pasti banyak monsternya,” kata Herman menjelaskan kepada semua anggota ekspedisi setelah membaca fishfinder.
Kapal berputar-putar untuk memastikan lokasi dan menentukan presisi labuh jangkar. Setelah labuh jangkar dan lampu kapal mulai dinyalakan, saya dan Herman memilih untuk jigging, sedangkan yang lain memilih untuk mancing dasar.
Herman main jigging dengan model fast retrieve sedangkan saya memilih long retrieve yang slow mengayungkan joran. Cara saya ternyata hanya menghasilkan ikan layur dan ikan-ikan kecil yang menghantam jig saya. Perohehan ikan kecil membuat saya frustasi dan jadi bahan ledekan kawan-kawan., untungnya pak Wanto berpendapat lain mengenai hasil ikan saya. “Bila ada layur Itu tanda-tanda lokasinya monster tepat ada di sini,” kata pak Wanto mengomentari hasil perolehan jigging saya.
Herman terus memainkan jig secara fast retrieve dan hasilnya ia mendapat sambaran yang luar biasa. “Strike…! Teriaknya menahan joran. Ikan dibawah sana liar ke sana kemari. Bahkan sesekali Herman menahan laju ikan. Pelan namun pasti ia berhasil menaikan ikan ke permukaaan. Seekor dogtooth tuna akhirnya berhasil ditaklukan oleh Herman. Hal yang sama juga dialami Pak Wanto yang juga mendapat dogtooth tuna. “Hadirnya dogtooth merupakan tanda bahwa di bawah pasti ada ikan escolar, “ kata Pak Wanto penuh dengan keyakinan.
Perkataan Pak Wanto akhirnya menjadi kenyataan. Monster yang kita tunggu dalam ekspdisi akhirnya muncul juga. Ikan menyambar umpan milik Pak Wanto. Tiba-tiba joran mengangguk diikuti Kenur PE 10 keluar dari reel Accurate. “Strike…!” kata Pak Wanto menahan jorannya. Ikan di bawah sana ngamuk dan membawa kabur ikan umpan. Saya lihat Pak Wanto begitu gigihnya menahan joran dan sesekali menggulung kenur. “Ini pasti tarikan monster escolar,” kata Pa wanto memberitahu kami.
Sekitar 10 menit kemudian ternyata benar ikan escolar yang menyambar umpan. “Escolar…!” teriak Ricky saat mau mengganco ikan eskolar. Begitu melihat cahaya kapal ikan escolar berontak narik ke bawah. Untungnya Pak Wanto sudah hapal betul karakter ikan itu sehingga ikan tak berdaya dan berhasil ditarik ke atas kapal. Spontan pekik kegembiraan pun meledak. Tosss dan aksi photo ria kami lakukan. “Luar biasa tarikannya. Pokoke mantaaap…….!,” kata Pak Wanto bahagia.
Kegembiraan kembali terjadi ketika Denis juga mendapat ikan escolar. Pancinger dari mmt7 nampaknya juga beruntung merasakan tarikan escolar dan berhasil memenangkan pertarungannya. “Tenaga luar biasa bak narik traktor bro…,” kata Denis diliputi bahagia.

Malam itu kami benar diliputi kebahagian karena hampir semua menarik ikan escolar. Sejumlah 6 ekor escolar dengan bobot sekitar 20 kg sampai 40 kg cukup membuat ekspedisi penuh dengan euphoria. Kami harus mengakhiri petualangan ekspidisi dengan rasa bangga dan bahagia. Secara umum perairan Maluku Tenggara memiliki potensi yang luar biasa. Aneka ikan ada di sana, buktinya kami mendapat beraneka macam ikan dengan menggunakan tehnik mancing dasar, jigging dan popping. If you want to play game fishing, let go to paradise at Maluku Tenggara***bm

Comments

comments

Comments are closed.