Sentarum : A Hidden Snakehead Paradise in West Borneo


Bermula dari iseng-iseng saya upload scene mancing di Sentarum pada trip perdana saya pada akhir tahun 2007 ke You Tube. Setelah beberapa lama, saya dapet email dari King Fisher Adventures (KFA) / Majalah Sirip Malaysia yang meminta saya untuk menemani mereka ke Sentarum guna berburu selendang mayang atau kerandang (channa pleurophthalma).

Rencana pun dibuat setelah beberapa lama menunggu cuaca membaik akhirnya trip ini terlaksana pada akhir oktober 2010 walau sempat sedikit pesimis karena kondisi Sentarum masih pasang akibat hujan yang tak kunjung reda beberapa hari sebelumnya. Para peserta adalah 2 orang dari (KFA)/ Majalah Sirip Malaysia dan kameramennya, 2 orang angler dari kami (WBAC) dan 1 orang petugas TNDS sebagai pendamping yang menemani kami.

Namun ada yang cukup membuat saya heran kenapa mereka (KFA) ngotot untuk minta dibawa kesana, whew ternyata di Malaysia species ini enggak ada dan bagi mereka ini barang baru. Setelah saya cari info sana sini memang benar ikan ini hanya ada di kalimantan bagian barat-tengah-sebagian di Kalsel dan sebagian wilayah Sumatera. Walau di Malaysia wilayah Sabah -Serawak notabene 1 pulau Kalimantan namun diakui mereka belum pernah dapat report orang mancing ikan ini.

Perjalanan kami dimulai dari kota pontianak tempat tinggal saya. Berangkat menuju kota Semitau yang notabene salah satu pintu masuk Taman Nasional Danau Sentarum terdekat dari pontianak. menggunakan mobil selama 12 jam. setelah beristirahat sejenak di Semitau dan petugas TNDS ikut bersama kami, kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan TN danau sentarum menggunakan speedboat 40pk selama 3 jam lebih menuju homestay kami yaitu rumah kepala desa disuatu kawasan inti Sentarum.

Pagi-pagi sekitar jam 5 pagi kami sudah mempersiapkan diri dan berangkat menuju danau pertama, saat memasukin aliran sungai kecil menuju danau. Kami disuguhi pemandangan yang cukup bikin bulu kudung merinding! Hutan lebat yang rindang dengan pohon-pohon yang begitu rapat membuat sinar matahari menjadi redup itu belum lagi suara-suara deburan ikan predator yang menyambar mangsanya di dalam hutan sekitar kami, wajar saja karena sedang musim hujan dimana debit air sudah menutupi semua daratan rendah disana. sehingga ikan-ikan pun bertebaran kemana-mana.

Tak lama mulai terlihat pemandangan menakjubkan yang disuguhkan kepada kami, hamparan danau yang luas dengan kabut tipis masih menggantung di atas permukaan air serta ciprakan air dari bermacam-macam ikan yang sedang bermain, ditambah lagi hanya kami yang ada di danau itu. Nelayan disana jarang memasuki danau ini karena mereka cukup mencari ikan di sungai utama saja sudah cukup menghasilkan.

Saya lihat teman kami dari KFA seperti terpana disuguhkan surga memancing seperti ini. ketika saya tanya tanggapan mereka, jawaban singkat namun begitu dalam "Bapak beruntung punya tempat seperti ini di daerah Bapak"

Okelah. Pekerjaan kami pun dimulai, 2 perahu, 4 angler siap bertarung! Cast pertama dimulai dari saya, 15 menit berlalu belum ada tanda-tanda sambaran. Kami pun pindah ke spot yang lebih dangkal dan lebih rapat tumbuhannya, tak disangka strike pertama disambut hangat toman sentarum. Dengan lure rubber frog saya mati-matian mempertahankan posisi diatas perahu dari ganasnya tarikan toman besar yang melahap lure saya. sempat fight beberapa lama akhirnya sang toman berhasil mengunci posisi saya ke semak-semak dan membuat line saya melilit gak bisa narik juga ga bisa ngulur. Wow.. tangan sempat gemetaran menunggu sang motoris perahu mendekati semak-semak yang membuat line terkunci, namun apa daya, dari beberapa hentakan toman yang mencoba melepaskan diri. Sang toman berhasil lolos dengan meninggalkan double hook bengkang dan karet frogy yang udah nga karuan bentuknya.

Sambil senyum kecut saya ganti lure dan pindah ke spot lain. Memang tujuan kami bukan mencari toman tapi kerandang, sang srigala danau. Angler KFA pun beberapa kali dihajar toman dari yang kecil sampai yang besar namun kami hanya mampu menaikkan toman under 1 kg krn kalah di hook. Well.. nothing to loose, not the target.

Sampai tengah hari hanya toman dan toman yang menghajar lure kami, saya heran juga kok kerandang belum muncul apa salah spot. “Pindah lokasi pak” seru saya ke motorist. Nah ketika mendapat spot ideal dalam 3 kali cast akhirnya kerandang size medium berhasil naik menggunakan crankbaitnnya ecogear. Wow akhirnya telor pun pecah. semangat kami kembali mengalir dan setelah itu bertub-tubi strike dari kerandang melahap lure saya. Lucunya angler KFA masih saja dihajar toman bukan kerandang. Sampai sore kami memutuskan pulang ke homestay dan prepare buat besok ke danau yang berbeda.

Pagi hari itu, setelah persiapan kami pun memasuki kawasan danau yang berbeda. Sambil cast dan mengamati sekitar danau kami mencoba untuk lebih masuk ke area rapat vegetasi dimana hanya angler terlatih yang bisa cast di sini. Lumayan banyak rintangan dan tumbuhan air yang dapat membuat lure sangkut dan itu berarti wasting time.


Lure tipe crank, jerkbait, pencil, propeler, minnow berukuran 5-8 cm pun digunakan. Cast mendekati tepian tumbuhan dan sekitarnya. Wow.., tak lama strikeeee!!! Seekor toman anakan membuka strike pagi itu, whew, dia lagi dia lagi. Banyak amat toman disini. Sabar.., sabar.., kerandang pasti naik gumamku dalam hati. Benar saja tak lama strike terjadi, terasa beda tarikkannya. ini pasti kerandang. Whew.. benar saja, seekor kerandang ukuran standard naik menambah perbendaharaan kami. Secara bergantian strike pun terjadi. Rame juga ikannya disini. cuma ada yang cukup aneh. Beberapa kali terjadi sambaran tapi karakter sambarannya berbeda, kalo snakehead secara umum pasti ada air buble akibat sedotannya yang kuat terhadap mangsanya. Tapi ini berbeda, sambaran cukup cepat tapi sering mocel. Ikan apa gerangan yang sering menggangu lure kami. Saya coba mengganti lure dengan minnow ukuran lebih kecil. Tak lama sang penggangu pun hook up. Walau kami tau ini ikan enggak besar tapi tarikannya lumayan liar. Mirip karakter hampala. setelah landing on boat ternyata ini ikan sejenis jelawat yang di sentarum disebut ikan piam. body sama persis dengan jelawat hanya warnanya merah darah terang sekali dan dikedua "pipi"nya ada roda merah terang darah besar. Ikan ini banyak terdapat di danau. Menurut penduduk sekitar anakan ikan ini suka berada di danau dan setelah berukuran agak besar mereka akan migrasi ke sungai dan sizenya bisa sampai 5 kg up.

Spot pertama sudah diubek-ubek, sambaran pun mulai sepi. Saatnya pindah spot. Sambil mengamati kami mencoba masuk lebih dalam lagi. Entah karena insting atau memang beruntung. Kami menemukan spot yang lumayan menarik dan di sinilah kami dihajar habis-habisan sama gerombolan kerandang.

Ok,. kita mulai lebih detil ya. Spot ini berada di sudut, ada semacam tumbuhan besar yang disekelilingnya ditumbuhi lumut mengambang, kalo dideskripsikan mirip payung atau shelter yang kalo kita berpikir sepeti ikan ini adalah "rumah yang nyaman dan aman". nah sebelum kami mendekati spot mencurigakan itu kami terlebih dahulu cast disekitarnya. Benar saja, strike datang silih berganti, macam-macam ukuran kerandang menghajar lure kami, juga mereka enggak pilih-pilih lure, apa saja diembat asal muat mulutnya. tak lama kami pun mendekati "kerandang shelter" tersebut.

Di spot lainnya mungkin saya ngga usah cerita panjang lebar krn beberapa kali di hajar preman toman, dan banyak kerandang serta jelawat piam ukuran abg. intinya disemua spot ada potensi strike hanya masalah ukuran aja yg tergantung rezeki. Banyak preman yang hajar tapi gak ada yang naik karena hook lurus, bengkang, dan lepas diplintir ke semak-semak.

Di danau-danua kawasan Sentarum, ada sebuah dilemma saat casting yaitu ikan-ikan predator sana mainnya cepet. Kalo di open area sih jabanin aja mo dibawa ampe siapa kuat tapi kalo di tight area, angler ga boleh kalah cepat sama ikan, kalo ikan yang lebih cepat bawa lure 90% pasti lepas, karena sangkut atau diplintir ke semak-semak. Kalo anglernya lebih cepat, ikan juga ga jamin bisa naik kalo hook ga cukup kuat apabila sang ikan beukuran besar. saya tipikal medium responsive fighter dan lebih memilih open area, sedangkan Darren tipikal fast responsive fighter yang ngotot jangan sampe kalah sama ikan walau banyakan bengkang hook dia dari pada saya hehehehhe.***Foto dan Naskah by Bang Wawan WBAC (west borneo anglers community) www.fishyforum.com

Comments

comments

Comments are closed.