Tim ACP dan Hearty Rise Test Produk di Aceh


Produsen joran pancing yang sudah terkenal di dunia, Hearty Rise dan Asia Central Pancing Jakarta dengan pancinger Johan, Budi, Joni, Risal dan tim Hearty Rise Singapura Frangky, Erik dan Ci Sueng melakukan ekspedisi ke bersama Berita Mancing di sekitar Pulau Rondo, Sabang, Aceh pada tanggal 15 – 17 April. Trip mancing selama 2 hari untuk melakukan test produk Hearty Rise. Berikut kami sajikan fishing historynya. Mancing bersama produsen alat pancing dari Singapura dan toko pancing besar dari Jakarta merupakan kebanggan tersendiri bagi BM, meskipun hasil mancing dirasakan kurang bagus.
Kisah history mancing kami awali dari tanggal 15 April 2011, dimana pesawat Garuda yang kami naiki dari Jakarta mendarat di bandara Nangroe Aceh Darussalam, kami langsung dijemput oleh kawan-kawan dari Aceh. Selanjutnya kami mencari penginapan untuk istirahat sejenak sambil menunggu jam 15.00 untuk naik kapal Ferry menuju ke Sabang. Pada jam 16.00 kapal Ferry Pulau Rondo meninggalkan dermaga Ulee Lheu menuju ke Sabang, Pulau We. Satu jam kemudian kami sudah sampai menginjakan kaki di Sabang, kemudian kami melanjutkan perjalanan darat ke dermaga Kota Sabang.
Pukul 06.00 kami sudah berada di atas kapal Dinas Kelautan dan Perikanan Sabang dengan kapten kapal Pak Medi. Setelah membeli perbekalan makan, kami sempat berbincang-bincang mengenai spot yang akan kami tuju dengan kapten kapal. Setelah semua loading oke, kapal pun berjalan menuju kawasan Pulau Rondo. Sambil menuju ke hot spot sekitar Pulau Rondo kami mempersiapkan peralatan jigging dan semua alat menggunakan joran produk Hearty Rise untuk jigging pada malam hari.
Untuk memulihkan stamina setelah menempuh perjalanan dari Jakarta, sebelum jigging action kami mulai, maka kami makan terlebih dahulu. Usai makan malam saat kapal berada tepat di salah satu hot spot di Pulau Rondo, kami langsung jigging. Joran light blue dari Hearty Rise di padukan dengan reel Daiwa langsung kami gunakan memancing. Erik, Johan, Joni dan Frangky memilih jigging di depan, sedangkan Budi dan Rizal memilih jigging di belakang. Menit demi menit jam demi jam kami terus rajin jigging namun nampaknya tidak ada satu ikan pun yang menyenggol jig kami. Satu per satu kami mulai istirahat dan hanya Rizal dan Joni yang tetap jigging sayangnya hanya ikan-ikan kecil yang berhasil mereka dapat. Jam selanjutnya merekapun ikut istirahat mempersiapkan ekspedisi mancing hari esok.
Sinar mentari dari ufuk timur masih temaram memancarkan sinarnya. Di depan pemandangan ada 5 batu karang di sekilar Pulau rondo menghiasi pemandangan kami. Meski masih agak terkantuk-kantuk Joni dan Rizal mempersiapkan alat poppingnya. Kemudian kapten kapal Madi mulai memerintahkan menarik jangkar dan menuju hot spot baru karang di Pulau Rondo.
Kapal terus berjalan pelan menelusiri batu karang. Joni, Erik dan Rizal nampaknya telah bersiap-siap melempar poppernya diantara baru karang. Joran Hearty Rise yang dipadu dengan reel Daiwa pun siap dipergunakan. Ketiga pancinger dengan penuh semangat menggempur di sekitar batu karang secara bertubi-tubi. Jam demi jam dilewati namun nampaknya tidak satu ikanpun yang mau memakan popper kami, sehingga kami memutuskan untuk mancing popping secara bergantian. Meski demikian hasil memancing tetap kosong. Tidak adanya GT yang menyambar popper kami tentu saja membuat kami terus bertanya-tanya dan semakin penasaran, sehingga meskipun capek kami mencoba sesekali melempar popper.
Melihat hal tersebut kawan-kawan meminta Kapten untuk pindah di lokasi pasir utara. Pantai pasir utara adalah karang yang menyerupai gunung di bawah laut (sea mount reef). Menurut Pak Madi, bahwa pantai utara biasanya selalu ramai dengan kapal nelayan mencari ikan, karena dilokasi itu terdapat karang besar di bawah laut. Jarak tempuh ke pantai utara dari pulau Rondo sekitar 2, 5 jam. Dalam perjalanan ke pantai Utara kami bergunakan untuk istirahat.
Sekitar jam 3 sore kapal sampai di pantai utara. Tanpa basa-basi lagi kami mengeluarkan piranti jigging di lokasi sea mount reef Pantai utara. Beberapa kali turun pancingan umpan langsung di sambar ikan. Strike terjadi, Johan yang memilih jigging di posisi samping harus berbahagia bertarung dengan ikan. Setelah beberapa menit ikan berhasil di naikan ke atas kapal.
Sayangnya dalam kondisi yang banyak strike, Pak Madi kapten kapal tidak melabuh jangkar. Hal ini tentu saja menyulitkan pancinger saat strike dan lokasi mancing bergeser jauh dari hot spot sehingga durasi strike berkurang. Melihat hal ini Joni menyuruh kapten kapal kembali ke posisi strike pertama.
Kapal kembali ke posisi pertama, dan tak lama kemudian jig milik Joni disambar ikan. “Haaapp… strike..!” teriak Joni sambil menahan joran Hearty Rise. Ikan nampaknya semakin liar membuat Joni harus mati-matian menahan dan fight. Dengan semangat besar Joni menyudahi pertarungan dengan. Dari jauh Nampak seekor ikan GT mulai kepayahan di atas permukaan. Setelah sampai dekat kapal, Frangky segera ambil serokan dan mengangkat ke atas kapal dan kemudian melepas kail dari mulut ikan.Di pantai utara ini umpan kami sering disambar ikan sayangnya kapal terus menghanyut sehingga menyulitkan kami untuk fight.
Setelah puas mancing di sea mount reef pantai Utara, pada sore hari kami memtuskan untuk kembali memancing di Pulau Rondo. “Kenapa pindah? Bukannya di sini spotnya bagus?” kata saya pada Kapten. Menurut kapten spot sea mount reef pantai Utara merupakan perlintasan kapal-kapal besar yang keluar masuk ke selat Malaka, jadi sangat berbahaya mancing di jalur tersebut. Jadi pantas jika kapten kapal tidak berani memancing di san takut tertabrak kapal tanker.
Malam itu kapal meluncur ke Pulau Rondo. Dalam perjalanan ke Pulau Rondo kami pergunakan untuk istirahat. Tiga jam kemudian kapal sudah berada di titik spot Pulau Rondo. Kami terus jigging namun tidak ada satu ikan pun menyambar jig kami. Melihat ikan enggak makan satu persatu pancinger mencari lokasi tidur.
Minggu pagi tanggal 17 April merupakan hari terakhir untuk trip kali. Untuk itu kami terus bersemangat popping di Pulau Rondo namun hasil memancing juga kurang. Sampai jam 10 siang kapten kapal memutuskan kembali ke dermaga Sabang untuk menyudahi trip mancing kali ini. Meski hasil kurang dalam trip kali ini kami belajar banyak tentang hal memancing bahwa faktor keberhasilan harus ditunjang banyak hal seperti kapten kapal yang harus paham betul lokasi mancing dan tehnik mancing. Kesabaran dan ketekunan memancing bukan hanya slogan semata namun harus terus di praktekan.***mrk
Produsen joran pancing yang sudah terkenal di dunia, Hearty Rise dan Asia Central Pancing Jakarta dengan pancinger Johan, Budi, Joni, Risal dan tim Hearty Rise Singapura Frangky, Erik dan Ci Sueng melakukan ekspedisi ke bersama Berita Mancing di sekitar Pulau Rondo, Sabang, Aceh pada tanggal 15 – 17 April. Trip mancing selama 2 hari untuk melakukan test produk Hearty Rise. Berikut kami sajikan fishing historynya. Mancing bersama produsen alat pancing dari Singapura dan toko pancing besar dari Jakarta merupakan kebanggan tersendiri bagi BM, meskipun hasil mancing dirasakan kurang bagus.
Kisah history mancing kami awali dari tanggal 15 April 2011, dimana pesawat Garuda yang kami naiki dari Jakarta mendarat di bandara Nangroe Aceh Darussalam, kami langsung dijemput oleh kawan-kawan dari Aceh. Selanjutnya kami mencari penginapan untuk istirahat sejenak sambil menunggu jam 15.00 untuk naik kapal Ferry menuju ke Sabang. Pada jam 16.00 kapal Ferry Pulau Rondo meninggalkan dermaga Ulee Lheu menuju ke Sabang, Pulau We. Satu jam kemudian kami sudah sampai menginjakan kaki di Sabang, kemudian kami melanjutkan perjalanan darat ke dermaga Kota Sabang.
Pukul 06.00 kami sudah berada di atas kapal Dinas Kelautan dan Perikanan Sabang dengan kapten kapal Pak Medi. Setelah membeli perbekalan makan, kami sempat berbincang-bincang mengenai spot yang akan kami tuju dengan kapten kapal. Setelah semua loading oke, kapal pun berjalan menuju kawasan Pulau Rondo. Sambil menuju ke hot spot sekitar Pulau Rondo kami mempersiapkan peralatan jigging dan semua alat menggunakan joran produk Hearty Rise untuk jigging pada malam hari.
Untuk memulihkan stamina setelah menempuh perjalanan dari Jakarta, sebelum jigging action kami mulai, maka kami makan terlebih dahulu. Usai makan malam saat kapal berada tepat di salah satu hot spot di Pulau Rondo, kami langsung jigging. Joran light blue dari Hearty Rise di padukan dengan reel Daiwa langsung kami gunakan memancing. Erik, Johan, Joni dan Frangky memilih jigging di depan, sedangkan Budi dan Rizal memilih jigging di belakang. Menit demi menit jam demi jam kami terus rajin jigging namun nampaknya tidak ada satu ikan pun yang menyenggol jig kami. Satu per satu kami mulai istirahat dan hanya Rizal dan Joni yang tetap jigging sayangnya hanya ikan-ikan kecil yang berhasil mereka dapat. Jam selanjutnya merekapun ikut istirahat mempersiapkan ekspedisi mancing hari esok.
Sinar mentari dari ufuk timur masih temaram memancarkan sinarnya. Di depan pemandangan ada 5 batu karang di sekilar Pulau rondo menghiasi pemandangan kami. Meski masih agak terkantuk-kantuk Joni dan Rizal mempersiapkan alat poppingnya. Kemudian kapten kapal Madi mulai memerintahkan menarik jangkar dan menuju hot spot baru karang di Pulau Rondo.
Kapal terus berjalan pelan menelusiri batu karang. Joni, Erik dan Rizal nampaknya telah bersiap-siap melempar poppernya diantara baru karang. Joran Hearty Rise yang dipadu dengan reel Daiwa pun siap dipergunakan. Ketiga pancinger dengan penuh semangat menggempur di sekitar batu karang secara bertubi-tubi. Jam demi jam dilewati namun nampaknya tidak satu ikanpun yang mau memakan popper kami, sehingga kami memutuskan untuk mancing popping secara bergantian. Meski demikian hasil memancing tetap kosong. Tidak adanya GT yang menyambar popper kami tentu saja membuat kami terus bertanya-tanya dan semakin penasaran, sehingga meskipun capek kami mencoba sesekali melempar popper.
Melihat hal tersebut kawan-kawan meminta Kapten untuk pindah di lokasi pasir utara. Pantai pasir utara adalah karang yang menyerupai gunung di bawah laut (sea mount reef). Menurut Pak Madi, bahwa pantai utara biasanya selalu ramai dengan kapal nelayan mencari ikan, karena dilokasi itu terdapat karang besar di bawah laut. Jarak tempuh ke pantai utara dari pulau Rondo sekitar 2, 5 jam. Dalam perjalanan ke pantai Utara kami bergunakan untuk istirahat.
Sekitar jam 3 sore kapal sampai di pantai utara. Tanpa basa-basi lagi kami mengeluarkan piranti jigging di lokasi sea mount reef Pantai utara. Beberapa kali turun pancingan umpan langsung di sambar ikan. Strike terjadi, Johan yang memilih jigging di posisi samping harus berbahagia bertarung dengan ikan. Setelah beberapa menit ikan berhasil di naikan ke atas kapal.
Sayangnya dalam kondisi yang banyak strike, Pak Madi kapten kapal tidak melabuh jangkar. Hal ini tentu saja menyulitkan pancinger saat strike dan lokasi mancing bergeser jauh dari hot spot sehingga durasi strike berkurang. Melihat hal ini Joni menyuruh kapten kapal kembali ke posisi strike pertama.
Kapal kembali ke posisi pertama, dan tak lama kemudian jig milik Joni disambar ikan. “Haaapp… strike..!” teriak Joni sambil menahan joran Hearty Rise. Ikan nampaknya semakin liar membuat Joni harus mati-matian menahan dan fight. Dengan semangat besar Joni menyudahi pertarungan dengan. Dari jauh Nampak seekor ikan GT mulai kepayahan di atas permukaan. Setelah sampai dekat kapal, Frangky segera ambil serokan dan mengangkat ke atas kapal dan kemudian melepas kail dari mulut ikan.Di pantai utara ini umpan kami sering disambar ikan sayangnya kapal terus menghanyut sehingga menyulitkan kami untuk fight.
Setelah puas mancing di sea mount reef pantai Utara, pada sore hari kami memtuskan untuk kembali memancing di Pulau Rondo. “Kenapa pindah? Bukannya di sini spotnya bagus?” kata saya pada Kapten. Menurut kapten spot sea mount reef pantai Utara merupakan perlintasan kapal-kapal besar yang keluar masuk ke selat Malaka, jadi sangat berbahaya mancing di jalur tersebut. Jadi pantas jika kapten kapal tidak berani memancing di san takut tertabrak kapal tanker.
Malam itu kapal meluncur ke Pulau Rondo. Dalam perjalanan ke Pulau Rondo kami pergunakan untuk istirahat. Tiga jam kemudian kapal sudah berada di titik spot Pulau Rondo. Kami terus jigging namun tidak ada satu ikan pun menyambar jig kami. Melihat ikan enggak makan satu persatu pancinger mencari lokasi tidur.
Minggu pagi tanggal 17 April merupakan hari terakhir untuk trip kali. Untuk itu kami terus bersemangat popping di Pulau Rondo namun hasil memancing juga kurang. Sampai jam 10 siang kapten kapal memutuskan kembali ke dermaga Sabang untuk menyudahi trip mancing kali ini. Meski hasil kurang dalam trip kali ini kami belajar banyak tentang hal memancing bahwa faktor keberhasilan harus ditunjang banyak hal seperti kapten kapal yang harus paham betul lokasi mancing dan tehnik mancing. Kesabaran dan ketekunan memancing bukan hanya slogan semata namun harus terus di praktekan.***mrk

Comments

comments

Comments are closed.